Berdasarkan data Disbudpar Batam, distribusi kunjungan museum pada lima bulan pertama tahun ini cukup fluktuatif. Januari mencatat 959 kunjungan, disusul Februari 858 orang, Maret 45 orang, April 744 orang, dan Mei 378 orang. Penurunan signifikan pada Maret disebabkan oleh bulan Ramadhan yang mengurangi aktivitas wisata edukasi.
“Pelajar memang menjadi pengunjung yang paling banyak ke museum. Biasanya bisa mencapai 400 sampai 500 orang per bulan, tetapi pada Mei turun menjadi sekitar 78 orang karena kemungkinan anak-anak sedang menghadapi ujian,” kata Ardiwinata saat dikonfirmasi di Batam, Jumat.
Pada Februari, museum menerima 551 pelajar, 118 pengunjung umum, dan 189 wisatawan asing. Sementara pada April, komposisinya adalah 426 pelajar, 145 pengunjung umum, dan 173 wisatawan asing.
Wisman Didominasi Pensiunan dari Singapura dan Malaysia
Selain pelajar, wisatawan mancanegara menjadi segmen penting dengan rata-rata hampir 200 orang per bulan. Ardiwinata menjelaskan bahwa wisman yang datang mayoritas berasal dari Singapura dan Malaysia, termasuk kalangan pensiunan atau kelompok usia di atas 50 tahun yang memiliki minat khusus terhadap sejarah dan budaya Melayu.
“Mereka tertarik karena museum ini menyajikan perjalanan sejarah yang cukup lengkap, mulai dari Kerajaan Riau-Lingga, sejarah Batam, hingga kisah Nong Isa. Banyak juga rombongan dari kalangan militer dan instansi luar negeri yang berkunjung,” ujarnya.
Mini Theater Jadi Andalan Tarik Minat Pengunjung
Untuk meningkatkan pengalaman pengunjung, Disbudpar Batam mengarahkan setiap rombongan yang datang untuk memanfaatkan fasilitas mini theater yang tersedia di museum. Fasilitas ini menayangkan materi sejarah dan budaya Melayu secara audiovisual dan dapat digunakan untuk kegiatan edukasi komunitas.
“Setiap ada kunjungan yang datang, pasti kami arahkan untuk mini theater Museum, karena ada video yang dapat ditonton tentang sejarah museum tersebut,” kata Ardiwinata. Ia menambahkan bahwa respons pengunjung cukup positif, karena fasilitas tersebut dinilai informatif dan membantu pemahaman sejarah Batam secara lebih interaktif.
Retribusi Museum Capai Rp24,95 Juta, Dendang Melayu Masih Teratas
Dari sisi pendapatan daerah, Museum Raja Ali Haji mencatat retribusi sebesar Rp24,95 juta hingga Mei 2026. Namun, kontribusi terbesar dari objek wisata di bawah pengelolaan Disbudpar Batam masih berasal dari kawasan Dendang Melayu yang mencapai Rp176,41 juta pada periode yang sama.