Bola Trionda buatan PT Global Way Indonesia di Desa Kedungrejo, Kecamatan Pilangkenceng, Madiun, melanjutkan tradisi produksi bola resmi Piala Dunia setelah Al Rihla untuk edisi 2022. Sebagian proses pendukung juga melibatkan fasilitas di Majalengka, Jawa Barat. Kepercayaan dari Adidas ini menjadi bukti bahwa standar presisi dan akurasi tenaga kerja Indonesia telah diakui di level tertinggi sepak bola dunia.
Isu Remote Control dan Fakta Teknis di Dalam Bola
Beredar kabar yang menyebut bola Piala Dunia dilengkapi remote control untuk mengatur hasil pertandingan. Klaim itu tidak benar. Secara fisik, mustahil sebuah bola seberat 420 gram bisa dibelokkan dari jarak jauh tanpa terlihat. Jika ada motor dan baterai sebesar itu di dalam bola, keseimbangan dan pantulannya akan langsung terasa aneh oleh pemain profesional.
Yang sering disalahpahami sebagai remote sebenarnya adalah teknologi sensor pintar yang tertanam di dalam bola. Trionda dilengkapi Inertial Measurement Unit (IMU), sensor berbasis AI yang digantung dengan sistem suspensi khusus di titik tengah bola agar tetap stabil meski ditendang keras. Tugasnya bukan menggerakkan bola, melainkan mencatat dan mengirim data pergerakan secara real time hingga 500 kali per detik.
Mengapa Bola Harus Dicharge Sebelum Pertandingan?
Proses pengisian daya sebelum laga kerap dipelintir menjadi bukti bahwa bola bisa dikendalikan. Padahal, di dalam bola terdapat komponen elektronik aktif seperti sensor IMU, chip pemancar data, dan baterai kecil yang membutuhkan daya. Pengisian daya dilakukan melalui port khusus, mirip mengisi daya ponsel, agar sensor bisa bekerja mencatat data selama pertandingan. Setelah daya habis, fungsinya kembali menjadi bola biasa tanpa data.
Dua Manfaat Utama Teknologi Connected Ball
Data yang dikirim sensor IMU—berupa kapan bola disentuh, kecepatan, arah putaran, dan momen benturan—digabungkan dengan kamera pelacak di stadion dan kecerdasan buatan. Manfaat utamanya ada dua. Pertama, untuk sistem offside semi-otomatis yang menentukan titik waktu bola ditendang dengan akurasi milidetik sehingga garis offside bisa ditarik lebih tepat. Kedua, untuk membantu keputusan gol, termasuk mendeteksi apakah bola sudah sepenuhnya melewati garis atau ada sentuhan tipis yang tidak terlihat kamera.
Teknologi ini murni berfungsi sebagai saksi elektronik yang jujur, bukan alat yang mengendalikan jalannya bola. Dengan memahami cara kerjanya, kebanggaan terhadap produk buatan tangan pekerja Indonesia di Madiun untuk panggung dunia ini semakin beralasan: bola ini membawa teknologi canggih yang membantu wasit mengambil keputusan paling sulit dalam sepak bola modern, dan sepenuhnya tetap bergantung pada skill pemain di lapangan.