Kepala DLH Natuna Ferizaldy menekankan bahwa mangrove bukan sekadar tanaman pesisir. Fungsinya menahan abrasi, meredam gelombang laut, dan menjaga keseimbangan ekosistem pantai. Daerah pesisir Natuna yang dikelilingi laut terbuka sangat bergantung pada hutan mangrove untuk mengurangi risiko kerusakan garis pantai.
“Manfaat mangrove sangat besar, terutama dalam melindungi garis pantai. Karena itu, keberadaannya harus terus dijaga dan ditambah salah satunya melalui kegiatan penanaman seperti ini,” ujarnya.
Lintas Elemen Turun Tangan, Bukan Sekadar Seremonial
Penanaman melibatkan berbagai pihak: dinas terkait, organisasi pemuda, dan masyarakat setempat. Ferizaldy menyebut keterlibatan banyak elemen menjadi kunci membangun kesadaran kolektif dalam pelestarian lingkungan. “Kami menyiapkan 600 bibit mangrove untuk ditanam. Penanaman ini akan melibatkan berbagai instansi, organisasi pemuda, dan masyarakat di Natuna,” katanya.
Peserta tidak hanya menanam, tetapi juga diajak merawat bibit hingga tumbuh besar. DLH Natuna berharap seluruh bibit dapat bertahan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi kawasan pesisir Pering.
600 Bibit untuk Masa Depan Pesisir
Pemilihan lokasi di Jalan Lintas Pering, Penagi, bukan tanpa alasan. Kawasan ini rawan abrasi dan membutuhkan vegetasi pantai yang kuat. Dengan tambahan 600 bibit mangrove, diharapkan dalam beberapa tahun ke depan terbentuk hutan mangrove baru yang dapat mengurangi dampak gelombang ekstrem.
Ferizaldy mengajak semua peserta untuk memiliki kepedulian merawat mangrove setelah penanaman. “Kami menyiapkan 600 bibit mangrove untuk ditanam... Saya harap seluruh bibit yang ditanam dapat tumbuh dengan baik sehingga memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan,” tutupnya.
Hari Mangrove Sedunia diperingati setiap 26 Juli sebagai pengingat pentingnya ekosistem mangrove bagi kehidupan pesisir. Aksi serentak di Natuna menjadi bagian dari gerakan nasional penanaman mangrove yang digalakkan pemerintah daerah.