Pencarian

Kimia Farma Balik ke Profit Rp54,07 Miliar di Semester I-2026, Efisiensi dan Hilirisasi Jadi Kunci

Kamis, 06 Agustus 2026 • 10:01:31 WIB
Kimia Farma Balik ke Profit Rp54,07 Miliar di Semester I-2026, Efisiensi dan Hilirisasi Jadi Kunci
Direktur Utama Kimia Farma Djagad Prakasa Dwialam menyampaikan keterangan pers terkait kinerja keuangan semester I-2026 di Jakarta.

KEPULAUAN RIAU — Pencapaian ini tidak lepas dari pertumbuhan penjualan netto perseroan yang menembus Rp4,70 triliun, meningkat dibandingkan Rp4,36 triliun pada semester I-2025. Laba usaha KAEF pun melonjak signifikan sebesar 111,3 persen menjadi Rp152,21 miliar dari sebelumnya Rp72,01 miliar.

Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, menyebutkan bahwa perbaikan ini merupakan bukti nyata dari penguatan fundamental bisnis. "Capaian ini berbalik positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana perseroan masih mencatatkan rugi bersih sebesar Rp135,61 miliar," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (5/8).

Efisiensi menjadi motor utama perbaikan ini. Rasio beban usaha terhadap penjualan berhasil ditekan dari 34,2 persen menjadi 33,2 persen, menandakan pengendalian biaya mulai berdampak pada struktur operasional yang lebih ramping.

Enam Fokus Transformasi dan Hilirisasi Bahan Baku

Di balik angka positif tersebut, perseroan tengah gencar menjalankan enam fokus utama transformasi. Mulai dari ketahanan modal kerja, penguatan kompetensi sumber daya manusia, digitalisasi proses bisnis, efisiensi operasional, tata kelola perusahaan, hingga sinergi antar entitas di lingkungan Kimia Farma Group.

Pada sektor hulu, KAEF serius membangun kemandirian bahan baku obat (BBO) nasional. Fasilitas produksi di Jakarta dan Banjaran, Bandung, Jawa Barat, kini dioptimalkan sebagai tulang punggung produksi untuk 50 produk utama, termasuk obat esensial seperti Amlodipine, Codeine, Morfina, dan Abacavir.

Upaya ini diperkuat oleh anak usaha Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) yang telah mengantongi 19 BBO bersertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM. Dari jumlah tersebut, 18 di antaranya bahkan telah tersertifikasi halal oleh BPJPH.

Tekanan Geopolitik dan Strategi Mitigasi

Meski kinerja membaik, perseroan tidak menutup mata terhadap tantangan. Dinamika geopolitik di Timur Tengah pada kuartal II-2026 masih membayangi melalui kenaikan harga bahan baku dan bahan kemas yang sebagian besar masih diimpor.

Sebagai langkah antisipasi, manajemen menjalankan program efisiensi lanjutan, memperkuat pengendalian biaya, dan melakukan penyesuaian harga secara terukur pada sejumlah produk. "Langkah ini kami ambil untuk menjaga keberlanjutan pasokan, kualitas produk, dan kesehatan margin di tengah kenaikan harga bahan baku," jelas Djagad.

Dampak Nyata ke Masyarakat dan Layanan Kesehatan

Di sisi hilir, ekosistem Kimia Farma terus memperluas jangkauan layanan. Hingga Juni 2026, perseroan mengoperasikan lebih dari 1.000 apotek, 350 klinik, dan 60 laboratorium di seluruh Indonesia. Jaringan ini menjadi garda terdepan dalam melayani 23 juta pasien BPJS Kesehatan.

Perseroan juga aktif mendukung program prioritas pemerintah, mulai dari penanganan stunting, eliminasi Tuberkulosis (TB), hingga pengembangan layanan terintegrasi bagi lansia (elderly care). "Dengan dukungan Danantara dan sinergi Holding BUMN Farmasi, fokus kami tetap pada penguatan bisnis yang sehat dan ketersediaan obat bagi masyarakat," pungkas Djagad.

Follow kepriline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: m.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks