Bitcoin Tembus Rekor US$81.000 Didorong Strategi Agresif Pasar Opsi

Penulis: Hafizh Ramadhan  •  Selasa, 05 Mei 2026 | 15:42:01 WIB
Bitcoin mencetak rekor tertinggi di atas US$81.000 pada perdagangan sesi Asia hari Selasa.

Harga Bitcoin melonjak melampaui level US$81.000 (sekitar Rp 1,29 miliar) pada perdagangan sesi Asia hari Selasa, menandai rekor tertinggi sejak Januari lalu. Momentum penguatan ini didorong oleh pergeseran strategi di pasar opsi yang kini mulai bertaruh pada kenaikan harga berkelanjutan di tengah ketegangan geopolitik global.

Bitcoin kembali menunjukkan dominasinya dengan menembus level psikologis baru. Aset kripto terbesar ini sempat goyah pada Senin kemarin akibat isu serangan misil Iran, namun berhasil bangkit dan menguat 5,3 persen dalam sepekan terakhir. Saat penutupan pasar Amerika Serikat, Bitcoin masih berada di angka US$79.000 sebelum akhirnya melesat pagi ini.

Pergeseran Sentimen di Meja Opsi

Laju kenaikan ini tidak terjadi begitu saja. Data dari Laser Digital, unit bisnis aset digital milik Nomura, menunjukkan adanya aktivitas senyap dari para trader profesional. Mereka menggunakan strategi call ratio, yakni membeli opsi beli (call) untuk target kenaikan moderat dan membiayainya dengan menjual opsi untuk target kenaikan yang sangat tinggi.

"Jika harga spot mengalami terobosan meyakinkan di atas US$80.000, indikator risk reversal BTC yang saat ini negatif diperkirakan akan bergerak ke wilayah positif," tulis laporan Laser Digital yang diterima Selasa (12/11). Kondisi ini menandakan pasar mulai beralih dari fase protektif menjadi lebih konstruktif dan optimis.

Selama sepekan terakhir, volatilitas Bitcoin cenderung tenang. Para trader sebelumnya lebih banyak membayar premi untuk opsi put (taruhan harga turun) sebagai perlindungan. Namun, struktur pasar saat ini menunjukkan bahwa pelaku pasar lebih diuntungkan jika Bitcoin terus merangkak naik secara bertahap tanpa lonjakan yang terlalu ekstrem.

Anomali Makro dan Ketegangan Timur Tengah

Kenaikan Bitcoin terjadi di saat situasi makroekonomi sebenarnya tidak benar-benar membaik. Harga minyak mentah Brent masih tertahan di level US$113 per barel, sementara WTI berada di kisaran US$104. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah kapal perusak AS, Truxtun dan Mason, harus mengawal kapal komersial akibat ancaman yang terkoordinasi.

Menariknya, Bitcoin mulai terlihat mengabaikan narasi risiko geopolitik tradisional. Donald Trump bahkan sempat menyatakan bahwa konflik mungkin akan berlangsung dua hingga tiga minggu lagi, yang menandakan gencatan senjata sebelumnya mulai goyah. Meski demikian, arus masuk modal ke ETF Bitcoin terus memberikan dukungan kuat, memicu perdebatan apakah BTC kini mulai bertransformasi dari aset berisiko menjadi instrumen lindung nilai (hedge) inflasi.

Dogecoin Memimpin di Barisan Altcoin

Di saat Bitcoin mencetak rekor, pergerakan di pasar altcoin cenderung bervariasi. Ethereum (ETH) tertahan di posisi US$2.379 (Rp 38 juta), turun tipis 0,1 persen secara harian meski masih mengantongi keuntungan 4 persen dalam sepekan. Nasib serupa dialami Solana (SOL) yang terkoreksi ke US$84,84 (Rp 1,35 juta) dan XRP yang turun ke US$1,40 (Rp 22.400).

  • Dogecoin (DOGE): Menjadi bintang pekan ini dengan kenaikan total 12,4 persen, meski hari ini terkoreksi 1 persen ke US$0,1117 (Rp 1.787).
  • BNB: Bertahan stabil di level US$626 (Rp 10 juta).
  • Open Interest: Kontrak berjangka Dogecoin masih berada di level tertinggi sepanjang tahun, menunjukkan minat spekulasi yang masih sangat besar.

Fokus investor kini tertuju pada dua katalis utama di sisa pekan ini. Laporan pendapatan perusahaan teknologi besar dan rilis data tenaga kerja AS (Nonfarm Payrolls) pada hari Jumat diprediksi akan menjadi penentu apakah volatilitas Bitcoin akan kembali meledak atau tetap berada dalam tren kenaikan yang stabil.

Reporter: Hafizh Ramadhan
Back to top