BATAM — Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Batam kini mulai menyentuh teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk memperkuat bisnis mereka. Langkah ini ditandai dengan penutupan program AIM ASEAN bertajuk “Peningkatan Daya Saing UMKM Melalui Adopsi Teknologi AI” di Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA), Jumat (8/5/2026).
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari tersebut menyasar ratusan pedagang dari berbagai sektor, mulai dari kuliner rumahan, pengrajin lokal, hingga pedagang ritel. Mereka mendapatkan pendampingan langsung untuk menyusun strategi promosi, mengelola administrasi, hingga memetakan profil pelanggan menggunakan platform AI yang praktis.
Anggota DPD/MPR RI Dapil Kepulauan Riau, Dwi Ajeng Sekar Respaty, menegaskan bahwa intervensi teknologi pada level akar rumput merupakan langkah krusial. Menurutnya, akses terhadap teknologi canggih seringkali hanya dinikmati oleh korporasi bermodal besar, sehingga berisiko memperlebar jurang ketimpangan ekonomi.
“Jika adopsi teknologi hanya dikuasai oleh perusahaan bermodal besar, AI akan memperlebar jurang ketimpangan. Pelatihan dua hari ini adalah bentuk intervensi kami untuk pemerataan teknologi,” ujar Senator Ajeng dalam pernyataan tertulisnya.
Ia berharap pemilik warung makan hingga anak muda yang sedang merintis usaha kreatif di Batam memiliki bekal kecerdasan buatan yang setara untuk bertahan di pasar. Melalui program ini, para peserta tidak sekadar belajar teori, tetapi langsung mempraktikkan alat digital bersama fasilitator dari ASEAN Foundation dan KUMPUL Impact.
Data internal panitia mencatat dampak signifikan pasca-pelatihan. Meski 10 persen peserta mengaku baru pertama kali berinteraksi dengan platform AI, sebanyak 84 persen di antaranya kini menilai teknologi tersebut mampu membantu pemasaran sekaligus meningkatkan efisiensi operasional bisnis mereka secara nyata.
Sri Wahyuti, pemilik usaha Telur Asin Ibu Uti di Batam, merasakan langsung kemudahan tersebut. Baginya, teknologi AI yang sebelumnya dianggap rumit ternyata sangat membantu dalam memoles citra produk agar lebih menarik di mata calon pembeli.
“Setelah mengikuti pelatihan AI di event AIM ASEAN ini, mata saya terbuka. AI ternyata sangat mempermudah pekerjaan saya! Sekarang saya tahu bahwa foto produk bisa diedit menjadi jauh lebih menarik untuk memikat pembeli. Kesan saya, acara ini tidak hanya menambah ilmu dan memberikan masukan berharga, tapi benar-benar membantu kami yang kecil ini agar tidak tertinggal,” ungkap Sri Wahyuti.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kepri, Riki Rionaldi, menilai peningkatan kapasitas digital bagi UMKM di Batam bersifat mendesak. Mengingat posisi Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia, persaingan usaha di wilayah perbatasan menuntut kesiapan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan teknologi.
Transformasi ekonomi daerah tidak lagi cukup hanya dengan pembangunan infrastruktur fisik. Riki menekankan bahwa semangat belajar pelaku UMKM adalah modal utama dalam menghadapi kompetisi global yang semakin ketat di beranda depan Indonesia tersebut.
Secara kelembagaan, inisiatif ini merupakan bagian dari program lintas negara AIM ASEAN atau AI for MSME Advancement in ASEAN. Program ini dijalankan oleh ASEAN Foundation bersama AVPN melalui AI Opportunity Fund: Asia Pacific, dengan dukungan dari Google.org serta Asian Development Bank (ADB). Di Indonesia, implementasi strategisnya dikawal oleh KUMPUL Impact untuk memastikan jangkauan hingga ke pelaku usaha mikro.