Panini resmi mengumumkan penghentian produksi album stiker Piala Dunia yang legendaris setelah turnamen edisi 2030 mendatang. Kabar ini menutup tradisi koleksi memorabilia sepak bola global yang telah menemani jutaan penggemar lintas generasi sejak pertama kali diperkenalkan pada 1970.
Kabar mengejutkan datang di tengah riuh kontroversi penyelenggaraan Piala Dunia belakangan ini. Album stiker Panini, yang selama puluhan tahun menjadi ritual wajib bagi suporter sepak bola sebelum turnamen dimulai, dipastikan akan dipensiunkan dalam kurun waktu delapan tahun ke depan.
Keputusan ini menandai akhir dari sebuah era di mana kegembiraan mengoleksi potongan gambar pemain lebih dari sekadar hobi. Bagi banyak kolektor, stiker-stiker tersebut adalah arsip sejarah yang merekam transformasi sepak bola dari olahraga lokal menjadi industri global yang masif.
Salah satu kisah paling ikonis dalam sejarah Panini melibatkan legenda Italia, Roberto Baggio. Pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, stiker Baggio yang dijuluki The Divine Ponytail menjadi buruan utama kolektor di seluruh dunia karena statusnya sebagai pemenang Ballon d'Or saat itu.
Lorenzo Tondo, salah satu kolektor senior, mengenang bagaimana stiker Baggio dianggap memiliki nilai magis sekaligus membawa beban emosional. Di Sisilia, Italia, para penggemar bahkan sempat ragu menempelkan stiker Baggio ke dalam album karena takut membawa sial bagi tim nasional.
Ironisnya, setelah stiker tersebut akhirnya ditempel, Baggio justru gagal mengeksekusi penalti di laga final melawan Brasil. Hingga hari ini, lembaran stiker Baggio dari edisi 1994 tersebut masih memiliki nilai ekonomi tinggi, dengan harga mencapai 30 Euro atau sekitar Rp500 ribu di situs lelang eBay.
Tradisi ini dimulai pada Piala Dunia Meksiko 1970. Pada edisi perdana tersebut, album Panini hanya dijual seharga 10 pence dan sebagian besar gambar pemain masih berupa kartu yang harus ditempel menggunakan lem, bukan stiker perekat otomatis seperti sekarang.
Memasuki edisi Meksiko 1986, album Panini merekam momen-momen paling dramatis dalam sejarah sepak bola. Kolektor di era tersebut bisa menemukan wajah Gary Lineker yang masih muda hingga aksi legendaris Diego Maradona saat mencetak gol "Tangan Tuhan" ke gawang Inggris.
Penghentian produksi setelah tahun 2030 mencerminkan perubahan besar dalam cara penggemar mengonsumsi konten sepak bola. Di masa lalu, album Panini adalah sumber utama bagi suporter untuk mengenal wajah-wajah pemain dari tim nasional yang jarang tersorot kamera televisi.
Kini, digitalisasi dan hak siar yang meluas membuat misteri tentang pemain asing menghilang. Meskipun nilai nostalgia tetap kuat, pergeseran lisensi dan komersialisasi memaksa Panini untuk mengakhiri kerja sama panjang mereka dengan turnamen sepak bola paling bergengsi di planet ini.
Bagi para kolektor yang masih menyimpan album usang mereka di loteng rumah, buku-buku tersebut kini bukan sekadar tumpukan kertas. Mereka adalah artefak fisik dari masa ketika sepak bola terasa lebih sederhana, sebelum didominasi oleh statistik digital dan algoritma media sosial.