TANJUNGPINANG — Rencana pembangunan gudang Bulog di lima titik di Kepulauan Riau ini merupakan respons atas keluhan warga di pulau terluar yang kerap kesulitan mendapatkan beras dengan harga terjangkau. Kepala Bulog Cabang Tanjungpinang Arief Alhadihaq menyebutkan, dua dari lima gudang baru itu akan dibangun pada 2026, sisanya menyusul pada 2027.
Kabupaten Natuna menjadi wilayah dengan tambahan terbanyak, yakni tiga gudang baru di Pulau Laut, Midai, dan Serasan. Masing-masing gudang berkapasitas 1.000 ton beras. Saat ini Natuna baru memiliki dua gudang di Ranai dan Sedanau. Jika semua terbangun, total akan ada lima gudang Bulog di kabupaten yang berbatasan langsung dengan Vietnam itu.
Di Kabupaten Lingga, gudang baru akan dibangun di Pulau Dabok dengan kapasitas 1.000 ton. Realisasinya baru dimulai 2027. Selama ini Lingga hanya punya satu gudang di Daik, yang jaraknya sekitar satu jam perjalanan laut dari Dabok. Sementara di Kepulauan Anambas, satu gudang tambahan akan dibangun di Pulau Jemaja, melengkapi gudang yang sudah ada di Tarempa.
Arief menjelaskan, pemilihan lokasi-lokasi ini berdasarkan usulan masyarakat dan pemerintah daerah setempat. “Di Lingga baru terdapat satu gudang Bulog di Daik. Jarak antara Daik dan Dabok, sekitar satu jam perjalanan laut,” ungkapnya.
Pembangunan lima gudang ini seluruhnya didanai APBN. Pemerintah kabupaten/kota hanya diminta menyiapkan hibah lahan. Bulog tidak hanya membangun gudang, tetapi juga kompleks yang dilengkapi kantor, rumah dinas, musala, dan fasilitas buruh. “Kita akan menempatkan SDM Bulog di pulau 3T,” kata Arief.
Sementara untuk kawasan lain di Kepri, seperti Batam, Bintan, dan Tanjungpinang, masing-masing sudah memiliki satu gudang dengan kapasitas 2.000 hingga 3.500 ton dan dinilai mencukupi. Kabupaten Karimun masih menyewa gudang 800 ton, namun pemerintah pusat berencana membangun gudang permanen berkapasitas 2.000 ton dalam waktu dekat.
Kondisi geografis Kepri yang terdiri dari ribuan pulau membuat distribusi beras SPHP selama ini lambat. Jarak antara pusat ibu kota Natuna di Ranai dengan Pulau Laut, misalnya, memakan waktu sekitar enam jam perjalanan kapal. Belum lagi ancaman gelombang tinggi saat musim angin utara yang bisa mencapai empat meter.
Dengan adanya gudang baru, Bulog bisa menyetok beras jauh-jauh hari sebelum cuaca buruk datang. “Ke depan dengan adanya gudang Bulog seperti di Pulau Laut, harga beras tetap sesuai HET. Kita juga bisa memasok beras sejak jauh-jauh hari guna mengantisipasi musim angin utara dengan gelombang tinggi,” ucap Arief.
Program ini merupakan bagian dari peran Bulog mengawal swasembada pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan di wilayah perbatasan NKRI.