Panitia menyatakan penundaan ini terpaksa dilakukan karena berbagai kendala operasional. Selain minimnya partisipasi klub domestik, ajang internasional yang semula menargetkan atlet dari enam negara hanya mendapat konfirmasi pasti dari Malaysia. Negara lain seperti Singapura, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam, dan Korea Selatan belum mengirimkan kepastian hingga mendekati jadwal awal.
Juru Bicara Panitia, Daniel, mengungkapkan bahwa masukan dari sejumlah pelatih menjadi salah satu dasar evaluasi. Banyak atlet disebut mengundurkan diri karena jadwal kejuaraan bertepatan dengan masa ujian sekolah.
"Banyak atlet sebenarnya ingin ikut, tetapi biaya perjalanan sedang tinggi," kata Daniel dalam keterangan pers, Sabtu (23/5/2026). Kondisi ini diperparah dengan harga tiket pesawat menuju Batam dari berbagai provinsi yang masih mahal.
Sejak 11 Maret 2026, panitia telah membentuk grup WhatsApp untuk mempermudah koordinasi dan sosialisasi pendaftaran. Grup ini digunakan untuk menampung minat peserta sebelum diarahkan melengkapi administrasi dan pembayaran.
Namun, hingga H-9 pelaksanaan, hanya empat klub yang menyelesaikan seluruh proses. Situasi ini kemudian dibahas dalam rapat daring internal pada 4 Mei 2026 yang diikuti unsur Pengurus Provinsi Taekwondo Indonesia (PBTI) Kepri, Pengkot TI Batam, dan Bidang Pembinaan Prestasi PBTI. Hasilnya, jadwal diputuskan untuk diundur ke September.
Daniel menegaskan panitia akan mengembalikan uang pendaftaran kepada peserta yang sudah membayar. Ia juga menyebut panitia membantu peserta yang sudah membeli tiket kapal atau membayar uang muka hotel.
"Kalau tiket atau hotel tidak bisa refund, kami kembalikan penuh. Kalau bisa refund sebagian, sisanya kami bantu agar peserta tidak mengalami kerugian," ujarnya. Menurut Daniel, panitia justru mengalami kerugian materiel akibat penundaan ini, ditambah pemberitaan yang dinilai menyudutkan penyelenggara turut berdampak psikologis.
Meski menghadapi berbagai kendala, panitia tetap optimistis kejuaraan pada September mendatang akan lebih maksimal. Dukungan dari klub-klub taekwondo di Indonesia dan negara tetangga diharapkan meningkat.
"Kejuaraan ini diharapkan menjadi sejarah penting bagi taekwondo Indonesia sehingga mendapat dukungan dari PBTI. Tidak ada niat dari panitia untuk menjadwal ulang kegiatan ini, kecuali karena kondisi yang memang memaksa," kata Daniel menutup keterangannya.