BATAM — Warga Batam yang menikmati guyuran hujan beberapa hari terakhir mungkin belum tahu, sebagian dari air yang turun itu adalah hasil rekayasa teknologi. Operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan tengah digalakkan BP Batam bersama BMKG untuk mengantisipasi krisis air baku di sejumlah waduk.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan Djambak, membenarkan bahwa operasi TMC telah berlangsung sejak 15 Mei dan direncanakan berakhir pada 31 Mei 2026. Langkah ini diambil setelah ada tanda-tanda penurunan debit air di beberapa waduk tadah hujan.
Dalam satu kali penerbangan penyemaian, biaya yang dihabiskan mencapai sekitar Rp 200 juta. Komponen terbesar berasal dari sewa pesawat dan bahan bakar avtur, sementara bahan semai berupa garam relatif murah.
“Biaya terbesar memang dari penggunaan pesawat dan avtur. Sementara garam yang kami bawa sekitar satu ton per penerbangan harganya tidak terlalu mahal,” ujar Ramlan.
Ramlan menjelaskan, teknologi ini tidak bisa menciptakan hujan dari langit cerah tanpa awan. Tim penyemaian hanya memanfaatkan awan hujan yang sudah terbentuk secara alami. Garam atau natrium klorida ditaburkan ke kumpulan awan potensial agar butiran air lebih cepat bergabung dan turun sebagai hujan.
“Prinsipnya memanfaatkan awan yang sudah tumbuh, lalu dilakukan penyemaian supaya proses pembentukan hujannya lebih cepat. Kalau tidak ada potensi awan, penyemaian tidak bisa dijalankan,” tambahnya.
Operasi TMC di Batam menghadapi tantangan unik. Wilayah ini berada di jalur penerbangan internasional, terutama rute Singapura. Setiap penerbangan penyemaian harus mendapat izin dari pengatur lalu lintas udara (ATC) agar tidak mengganggu jadwal penerbangan komersial.
Bahkan, operasi sempat dihentikan sementara akibat kepadatan lalu lintas udara dan distribusi bahan semai yang belum tersedia. “Kami harus menyesuaikan dengan arahan ATC supaya penerbangan penyemaian tidak mengganggu pesawat lain,” kata Ramlan.
Dampak paling langsung adalah ketersediaan air baku di waduk-waduk utama Batam tetap terjaga di tengah musim kemarau. Bagi warga, ini berarti risiko kekeringan dan giliran air bersih bisa ditekan. Operasi TMC akan terus berlangsung dan disesuaikan dengan perkembangan cuaca hingga akhir Mei.
Tidak. Bahan semai yang digunakan adalah natrium klorida atau garam biasa, sama seperti garam dapur. Kandungannya aman bagi manusia dan lingkungan karena hanya mempercepat proses alami pembentukan hujan.
Saat ini operasi dijadwalkan berlangsung hingga 31 Mei 2026. Namun, pelaksanaannya tergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan awan potensial. Jika debit waduk sudah pulih, operasi bisa dihentikan lebih awal.