KEPULAUAN RIAU — Petaka datang di laga yang seharusnya menjadi panggung pembuktian bagi Sphephelo Sithole. Gelandang berusia 27 tahun itu justru menjadi aktor utama kekalahan Afrika Selatan setelah pelanggaran kerasnya berujung kartu merah langsung dari wasit. Momen tersebut terjadi di babak kedua, tepat saat timnya tengah berjuang mengejar ketertinggalan.
Sithole, yang dikenal sebagai motor serangan Bafana Bafana, kehilangan konsentrasi di area pertahanan sendiri. Ia gagal mengontrol bola kiriman lawan dan dalam upaya merebut kembali penguasaan, kakinya mengenai lawan dengan keras. Wasit tanpa ragu mengeluarkan kartu merah, meninggalkan Afrika Selatan dengan 10 pemain.
Keputusan itu sontak memicu protes dari bangku cadangan Afrika Selatan. Pelatih kepala terlihat frustrasi, sebab Sithole adalah salah satu pemain kunci yang diandalkan untuk menciptakan peluang di sisa pertandingan.
Kekalahan ini membuat posisi Afrika Selatan di grup Piala Dunia 2026 semakin genting. Dengan satu pertandingan tersisa, mereka wajib meraih kemenangan besar dan berharap hasil laga lain berpihak. Jika tidak, langkah Sithole dan kawan-kawan di turnamen akbar ini akan terhenti lebih awal.
Bagi Sithole, kartu merah ini menjadi noda hitam di turnamen yang seharusnya menjadi puncak kariernya. Sebelum insiden, ia tampil cukup solid sebagai jangkar lini tengah. Namun, satu detik kelengahan menghancurkan segalanya.
Manajemen tim pelatih kini harus memutar otak mencari pengganti Sithole di laga penentuan. Absennya gelandang andalan ini menjadi pukulan telak bagi skema permainan yang sudah dibangun. Sanksi tambahan dari FIFA juga mungkin menanti, mengingat pelanggaran yang dilakukan tergolong keras.
Publik sepak bola Afrika Selatan tentu kecewa. Harapan besar yang disematkan kepada Sithole sirna sudah. Kini, seluruh mata tertuju pada laga terakhir—apakah Bafana Bafana mampu bangkit dari keterpurukan atau justru pulang lebih awal dengan kepala tertunduk.