KEPULAUAN RIAU — Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan penerapan B50 tidak akan dilakukan secara serentak. Pemerintah memberikan masa transisi hingga tiga bulan untuk menghabiskan stok biodiesel B40 yang masih beredar di pasaran.
"Ada masa jeda untuk penyesuaian. Sisa B40 akan dihabiskan terlebih dahulu, diberi waktu sampai tiga bulan, kemudian beralih sepenuhnya ke B50," ujar Laode di Kementerian ESDM, Jumat (26/6/2026).
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut program campuran biodiesel berbasis sawit telah memberikan dampak signifikan pada neraca impor BBM nasional. Saat ini, konsumsi solar nasional mencapai sekitar 39 juta kiloliter per tahun.
"Penerapan B10 sampai B40, dan dalam waktu dekat menuju B50, ternyata membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada impor solar," kata Bahlil dalam Energy Forum di Hotel Borobudur, Kamis (25/6/2026).
Dengan komposisi biodiesel 50%, pemerintah menargetkan sekitar 300.000 barel per hari kebutuhan solar bisa dipenuhi dari bahan baku dalam negeri. Bahlil menambahkan, langkah ini membuat Indonesia tidak lagi mengimpor solar pada tahun ini. Sebelumnya, impor minyak mentah dan BBM mencapai sekitar 1 juta barel per hari, dan dengan B50 angka itu bisa ditekan menjadi 700.000 barel per hari.
Program mandatori biodiesel yang dimulai dari B10 pada 2016 awalnya bertujuan menjaga harga tandan buah segar (TBS) sawit dan memperluas pasar domestik bagi petani. Kini, manfaatnya meluas ke penurunan impor energi.
Laode Sulaeman menegaskan penerapan B50 tidak hanya berlaku bagi sektor industri, tetapi juga untuk seluruh konsumen. Setelah masa penyesuaian selesai, distribusi B50 ditargetkan berlangsung penuh di seluruh Indonesia.
Program ini menjadi salah satu andalan pemerintah dalam mencapai kemandirian energi, sekaligus menstabilkan harga komoditas sawit di tingkat petani.