TANJUNGPINANG — Dampak ekonomi dari perhelatan MTQ XII Tingkat Provinsi Kepri mulai terasa di sektor perhotelan. Kehadiran ribuan kafilah, ofisial, panitia, dan tamu dari 7 kabupaten/kota se-Kepri membuat sejumlah hotel di pusat kota Tanjungpinang kebanjiran tamu selama pekan ini.
Salah satu yang merasakan dampak langsung adalah Hotel Melin yang terletak di Jalan Pos, Kota Lama. Hotel ini menjadi tempat menginap resmi kafilah Kabupaten Kepulauan Anambas.
Resepsionis Hotel Melin, Lina, mengatakan dari 45 kamar yang dipasarkan, sekitar 80 persen telah terisi sejak MTQ dimulai. Hotel tersebut memiliki total 60 kamar, namun sebagian sedang tidak difungsikan.
“Kalau tidak ada acara MTQ, biasanya memang tidak seramai ini. Sekarang dampaknya besar buat kami karena kamar lebih banyak terisi,” ujarnya, Rabu (8/7/2026).
Menurut Lina, letak hotel yang strategis di pusat kota menjadi nilai tambah. Tamu dapat dengan mudah mengakses restoran, Tugu Sirih, maupun Pelabuhan Sri Bintan Pura.
Kondisi serupa terjadi di Hotel Alltrue. Sales Marketing hotel tersebut, Alex Fatrisman, mengungkapkan seluruh kamar yang dipasarkan terisi penuh selama MTQ berlangsung.
Hotel yang berlokasi di pusat kota ini menjadi tempat menginap kafilah Kabupaten Bintan dengan 42 kamar khusus untuk kontingen. Dari total 82 kamar yang dimiliki, semua kamar terisi.
“Alhamdulillah kamar kami terisi penuh. Selain kafilah MTQ dari Kabupaten Bintan, kami juga menerima tamu dari Singapura dan Malaysia. Dalam satu kali kunjungan, tamu mancanegara itu bisa memesan sekitar 10 sampai 15 kamar,” kata Alex.
Ia menambahkan, dampak MTQ tidak hanya dirasakan dari sisi hunian kamar. Ruang pertemuan hotel juga dimanfaatkan untuk kegiatan simulasi yang digelar Pemerintah Kota Tanjungpinang sebelum acara utama dimulai.
Baik Lina maupun Alex sepakat bahwa Tanjungpinang perlu lebih sering menjadi tuan rumah kegiatan berskala provinsi maupun nasional. Menurut mereka, gelaran seperti MTQ terbukti mampu menggerakkan sektor akomodasi secara signifikan.
“Tidak hanya MTQ, kami berharap event-event tingkat provinsi lainnya juga digelar di Tanjungpinang. Kalau kegiatan seperti ini sering ada, hotel-hotel tentu ikut merasakan manfaatnya,” ujar Lina.
Alex menambahkan, penyelenggaraan kegiatan besar harus disesuaikan dengan kapasitas akomodasi yang tersedia. Ia juga mendorong pengembangan atraksi wisata budaya dan sejarah Tanjungpinang agar wisatawan tidak hanya datang karena agenda tertentu, tetapi juga untuk menikmati destinasi lokal.
“Tanjungpinang memiliki potensi wisata budaya, sejarah, religi, dan kuliner. Menurut saya, yang paling kuat untuk terus dikembangkan adalah wisata budaya dan sejarah. Kalau potensi itu terus dipromosikan, tamu yang datang bukan hanya menginap karena menghadiri kegiatan, tetapi juga meluangkan waktu untuk menikmati destinasi yang ada,” tutupnya.