LINGGA — Polemik anggaran Alat Tulis Kantor (ATK) senilai Rp964 juta di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Lingga kembali menjadi sorotan. Ikatan Mahasiswa Kabupaten Lingga (IMKL) menilai sikap bungkam Plt Kepala BPKAD, Syarifah Riva Wartety Anugrah, justru memperkeruh suasana dan menimbulkan keresahan.
Ketua IMKL, Dimas Alparezi Bastian, mengecam keras tidak adanya klarifikasi resmi di tengah besarnya perhatian publik. Menurutnya, setiap rupiah yang dikelola pemerintah adalah uang rakyat yang harus dipertanggungjawabkan secara terbuka.
IMKL tidak hanya menyoroti anggaran ATK. Organisasi mahasiswa ini juga menemukan sejumlah persoalan lain yang dinilai menghambat pembangunan daerah. Berikut lima tuntutan yang mereka sampaikan:
Bendahara Umum IMKL, Yogi Saputra, menilai berbagai persoalan ini menunjukkan perlunya evaluasi serius terhadap tata kelola keuangan daerah. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin instansi yang menjadi jantung pengelolaan keuangan justru menjadi pusat masalah.
“Sikap bungkam Syarifah Riva Wartety Anugrah menunjukkan penunjukannya sebagai kepala BPKAD Lingga inkompetensi serta sarat akan nepotisme,” ujar Yogi dalam keterangan tertulis yang diterima di Lingga, baru-baru ini.
IMKL memberikan waktu 7×24 jam kepada Plt Kepala BPKAD Lingga untuk memberikan penjelasan resmi. Jika batas waktu itu tidak direspons dengan langkah konkret, IMKL menyatakan siap menggelar aksi unjuk rasa dan menempuh langkah konstitusional lainnya.
“Jabatan adalah amanah, bukan tameng untuk menghindari pertanggungjawaban serta ajang gaya-gayaan paling hebat. Kami akan terus mengawal persoalan ini sampai masyarakat memperoleh kejelasan,” tegas Dimas.