Harga Perak Antam Ambruk Rp 1.500 Jadi Rp 37.700, Bertolak Belakang dengan Pergerakan Global

Penulis: Zulkifli Arief  •  Jumat, 17 Juli 2026 | 11:50:26 WIB
Harga perak batangan Antam turun Rp 1.500 menjadi Rp 37.700 per gram pada hari ini.

KEPULAUAN RIAU — Berdasarkan pantauan dari laman resmi Logam Mulia Antam, penurunan harga perak hari ini cukup signifikan. Sehari sebelumnya, harga perak Antam masih bertengger di level Rp 39.200 per gram. Dengan koreksi ini, investor yang memegang perak batangan ukuran 250 gram harus merogoh kocek Rp 9.950.000, sementara untuk ukuran 500 gram dibanderol Rp 18.975.000.

Antam sendiri memasarkan produk peraknya dalam bentuk batangan dengan bobot 250 gram dan 500 gram, serta perak butiran dengan kemurnian 99,95 persen. Pelemahan harga ini menjadi sinyal bagi pelaku pasar untuk mencermati pergerakan jangka pendek logam mulia tersebut.

Perak Dunia Menguat Tipis, Tapi Tertekan Konflik

Tren yang terjadi di pasar domestik justru berbeda dengan pergerakan perak global. Mengutip data dari TradingEconomics, harga perak dunia pada hari yang sama tercatat menguat tipis 0,16 persen ke level US$ 55,58 per ons troi. Meski demikian, harga tersebut masih bertahan di bawah level psikologis US$ 56 per ons.

Dalam sepekan terakhir, performa perak dunia justru terbilang negatif dengan mencatatkan penurunan lebih dari 7 persen. Tekanan utama datang dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Amerika Serikat baru saja melancarkan serangan terhadap Iran, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan menyerang pangkalan AS di negara tetangga. Situasi ini mendorong harga minyak melambung dan memicu kekhawatiran inflasi tinggi serta suku bunga yang masih ketat.

Kebijakan The Fed Bayangi Pasar Logam Mulia

Di sisi lain, data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan sempat meredam ekspektasi kenaikan suku bunga pada Juli. Namun, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh kembali menegaskan komitmennya untuk memulihkan stabilitas harga, membuat pasar gamang. Saat ini, sekitar 55 persen pelaku pasar masih memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada September mendatang.

“Meskipun beberapa data ekonomi jangka pendek melunak, harga energi yang terus tinggi akan menyulitkan The Fed untuk mengadopsi sikap yang lebih lunak. Karena alasan yang sama, investor lebih memilih dolar daripada emas yang tidak memberikan imbal hasil,” ujar Analis Forex.com, Fawad Razaqzada, dalam catatannya.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang sedikit meningkat dan penguatan dolar AS sebesar 0,3 persen turut menekan minat terhadap logam mulia, termasuk perak. Hal ini membuat harga emas dunia juga tak luput dari koreksi, di mana harga emas spot pada Kamis (16/7/2026) ambles 1,7 persen menjadi US$ 3.989,95 per ons.

Reporter: Zulkifli Arief
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top