Biaya Listrik Rp 126 Juta Per Bulan Jadi Tantangan Operasional Embung Sebayar, Solusi Air Bersih Natuna

Penulis: Irwansyah Hakim  •  Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:50:01 WIB
Direktur Perumda Air Minum Tirta Nusa Natuna, Zaharudin, menyampaikan bahwa biaya listrik untuk mengoperasikan pompa Embung Sebayar mencapai Rp 126 juta per bulan.

NATUNA — Megahnya rencana pengoperasian Embung Sebayar sebagai solusi krisis air bersih di Natuna menyisakan persoalan pelik. Bukan soal teknologi atau ketersediaan sumber air, melainkan biaya operasional yang membengkak hingga ratusan juta rupiah setiap bulan. Direktur Perumda Air Minum Tirta Nusa Natuna, Zaharudin, mengungkapkan bahwa hasil perhitungan awal menunjukkan biaya listrik untuk mengoperasikan sistem pompa mencapai sekitar Rp 126 juta per bulan.

Biaya Listrik Pompa Capai Rp 126 Juta Per Bulan

“Biaya listrik saja sudah sekitar Rp 126 juta setiap bulan. Ini baru untuk operasional pompa,” ujar Zaharudin saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (17/1/2026).

Sistem distribusi air dari Embung Sebayar menuju Bukit Berangin menggunakan tiga unit pompa berkapasitas besar. Untuk menekan biaya, PDAM hanya akan mengoperasikan satu unit pompa. Dua unit lainnya disiapkan sebagai cadangan apabila terjadi kerusakan.

Perbandingan Biaya: Listrik vs Bahan Bakar Minyak

Strategi tersebut dinilai jauh lebih efisien dibandingkan menggunakan pompa berbahan bakar minyak. “Kalau menggunakan mesin sendiri dengan bahan bakar minyak, biaya operasional bisa mencapai sekitar Rp 414 juta per bulan. Itu pun dihitung saat harga minyak dunia belum mengalami kenaikan,” jelas Zaharudin.

Selisih biaya yang mencapai hampir tiga kali lipat ini menjadi alasan utama PDAM memilih sistem listrik. Namun, angka Rp 126 juta per bulan tetap menjadi beban berat bagi perusahaan daerah tersebut.

Pendapatan Maksimal Tak Cukup Tutupi Biaya Rutin

Besarnya biaya operasional menjadi tantangan serius bagi Perumda Air Minum Tirta Nusa Natuna. Pasalnya, pendapatan perusahaan setiap bulan hanya berkisar Rp 300 juta hingga Rp 400 juta, dan angka tersebut merupakan kondisi maksimal.

“Dengan pendapatan sebesar itu, untuk menutupi biaya operasional rutin dan gaji karyawan saja sebenarnya belum mencukupi,” katanya.

Kondisi ini menggambarkan bahwa menghadirkan layanan air bersih bukan sekadar membangun infrastruktur. Setelah embung berdiri, diperlukan komitmen pendanaan yang berkelanjutan agar fasilitas tersebut dapat beroperasi secara optimal tanpa membebani keuangan perusahaan.

Harapan Besar di Tengah Keterbatasan

Di sisi lain, Embung Sebayar tetap menjadi harapan besar bagi masyarakat Natuna. Infrastruktur ini diproyeksikan mampu meningkatkan ketersediaan air baku dan menjawab persoalan air bersih yang selama ini menjadi kebutuhan utama warga. Namun, keberhasilan proyek tersebut tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, melainkan juga kemampuan menjaga keberlangsungan operasionalnya dalam jangka panjang.

Reporter: Irwansyah Hakim
Sumber: metroindonesia.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top