NATUNA — Pemerintah pusat mulai menggeser posisi Natuna dari sekadar wilayah pertahanan menjadi simpul ekonomi maritim. Langkah konkretnya adalah pengajuan kode pelabuhan internasional untuk Selat Lampa, yang bakal membuka jalur perdagangan lintas negara di perbatasan utara Indonesia.
Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno menyampaikan usulan ini saat kunjungan kerja ke Natuna, Rabu (26/8/2026). Ia mengonfirmasi usulan kode internasional telah diserahkan ke Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
"Kodenya itu IDESTA, nanti kita harapkan bisa diajukan ke PBB," ujar Arif dalam keterangannya.
Jika terealisasi, status internasional ini bukan sekadar ganti papan nama. Selat Lampa bakal menjadi pintu keluar-masuk barang dari dan menuju Natuna. Aktivitas perdagangan pun tidak lagi bergantung pada konektivitas domestik yang selama ini menjadi kendala utama.
"Dengan demikian akan ada satu pelabuhan yang bisa dipakai untuk ekspor-impor," katanya.
Posisi geografis Natuna berbatasan langsung dengan sejumlah negara tujuan pasar, seperti Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Jepang, hingga China. Potensi ini dinilai sangat strategis.
Wamenlu menegaskan pengembangan Natuna tidak bisa berjalan parsial. Selain pelabuhan laut, akses penerbangan menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Penerbangan langsung rute Jakarta-Natuna yang sempat tersedia akan kembali diperkuat frekuensinya.
Bahkan, peluang membuka rute penerbangan langsung dari Singapura ke Natuna tengah dikaji. Langkah ini bertujuan menopang sektor pariwisata dan mobilitas masyarakat di daerah terluar tersebut.
Sektor perikanan menjadi kekuatan ekonomi berikutnya yang ingin dioptimalkan. Pemerintah berencana mengembangkan armada kapal ikan berbagai ukuran, mulai dari 5 GT, 10 GT, 30 GT, hingga kapal berkapasitas lebih besar. Namun, peningkatan kapasitas ini harus diiringi pelatihan nelayan, khususnya untuk kapal di atas 30 GT, agar produktivitas tangkapan ikut naik.
Pemerintah juga mempertimbangkan program penyediaan es berbasis energi surya di Natuna. Program serupa sebelumnya dikembangkan melalui kerja sama dengan PBB di Maluku dan terbukti membantu nelayan menjaga kualitas hasil tangkapan.
Bupati Natuna Cen Sui Lan menyambut positif kunjungan Wamenlu ke daerah perbatasan tersebut. Menurutnya, kehadiran pejabat pusat menjadi momen penting bagi daerah untuk menyampaikan langsung berbagai kebutuhan strategis Natuna, termasuk pengembangan potensi rumput laut.
"Kita sangat berterima kasih Wamenlu sudah mengunjungi kita di perbatasan, menyerap aspirasi masyarakat yang disampaikan melalui Bupati. Kita berdoa semua apa yang kita inginkan itu bisa tercapai," ujar Cen.
Jika status internasional Selat Lampa benar-benar terealisasi dan diikuti kesiapan fasilitas serta konektivitas, Natuna tidak hanya menjadi wilayah terdepan dari sisi kedaulatan. Natuna juga berpeluang tumbuh sebagai gerbang ekonomi maritim Indonesia di kawasan utara.