Showa American Story Hands-On: Aksi RPG Absurd yang Menyuguhkan Pertarungan Penuh Risiko

Penulis: Irwansyah Hakim  •  Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:37:33 WIB
Pemain menjelajahi Amerika Serikat versi alternatif era 80-an yang dikuasai Jepang dalam demo Showa American Story.

KEPULAUAN RIAU — Dikembangkan oleh studio asal China, Showa American Story mengajak pemain menjelajahi Amerika Serikat akhir 80-an yang gagal total secara ekonomi dan budaya. Dalam dunia alternatif ini, Jepang berhasil menguasai hampir seluruh negeri, dan pemain berperan sebagai Choko Chigusa, seorang gadis yang bangkit dari kematian. Perjalanan daratnya dipenuhi pertarungan, eksplorasi, dan elemen RPG yang dibalut nuansa pop culture retro yang kental.

Demo yang kami mainkan selama kurang lebih dua jam terbagi dalam empat bagian: segmen cerita linier, eksplorasi kamp, penjelajahan peta terbuka, dan pertarungan bos besar. Arahan kreatif dari Xiangyu Luo menegaskan bahwa game ini adalah RPG yang dipenuhi referensi budaya pop era 80-an, dari musik hingga gaya visual ala film B.

Sistem Rage Cycle: Jantung Mekanisme Pertarungan

Inti dari pertarungan Showa American Story adalah sistem "Rage Cycle" yang mengharuskan pemain mengelola meteran Rage secara cermat. Rage terakumulasi saat pemain menyerang atau menerima damage, lalu berubah menjadi Rage Point (maksimal 5 poin). Senjata jarak dekat seperti tinju menghasilkan Rage lebih cepat, menjadikannya opsi paling efisien saat meteran kosong.

Rage Point bisa digunakan untuk berbagai aksi: meluncurkan Ultimate dengan damage besar, melakukan Rage Attack yang memperkuat serangan berat, atau memicu Chain Attack yang memungkinkan pergantian senjata instan tanpa recovery frame—mirip mekanisme Flash Attack di Nioh. Perfect Dodge dan Super Recovery juga mengonsumsi satu poin Rage, menambah lapisan strategi pada setiap pertarungan.

Empat Gaya Bertarung dengan Karakter Berbeda

Demo memperkenalkan empat kategori senjata jarak dekat yang masing-masing memiliki gaya bermain kontras. Kategori Bare Hands mencakup brass knuckles hingga "Wolf Fang Vajra Claws" yang mirip cakar Wolverine, menawarkan kecepatan serangan tertinggi dengan damage terendah. Sementara itu, katana memiliki moveset terdalam dengan sistem stance bernama Kamae yang bercabang berdasarkan kombinasi tombol.

Polearm memungkinkan pemain menggunakan bendera Amerika sebagai senjata sapuan luas dengan Super Armor, tetapi menguras stamina besar. Kategori Drill menawarkan damage astronomis dengan serangan linear yang menembus musuh, meski membatasi sprint. Kombinasi senjata dan manajemen stamina menjadi kunci, karena kehabisan stamina menurunkan pertahanan secara drastis dan meningkatkan damage yang diterima.

Masalah Kunci: Hit-Stop dan Interaksi yang Kaku

Meski sistemnya ambisius, eksekusi teknisnya masih jauh dari mulus. Hit-stop pada serangan jarak dekat terasa terlalu menonjol, membuat pertarungan terasa lamban alih-alih berdampak. Interaksi antara pemain dan musuh juga minim—keduanya sering tampak saling menembus tanpa reaksi yang meyakinkan.

Yang lebih mengganggu, timing Perfect Dodge sulit diprediksi. Kadang pemain harus menghindar sebelum serangan menyentuh, kadang harus terkena damage dulu untuk memicu slow-motion. Ketidakpastian ini membuat pemain panik dan menghabiskan Rage Point secara tidak sengaja, merusak ritme Rage Cycle yang seharusnya menjadi daya tarik utama. Efek visual darah yang berlebihan juga kerap mengganggu visibilitas di layar.

Eksplorasi dan Progression ala RPG Lengkap

Di luar pertarungan, Showa American Story menawarkan sistem progression yang dalam. Pemain mendapatkan XP secara real-time untuk meningkatkan statistik inti seperti Health, Stamina, dan Melee, plus Battle Points untuk membuka skill karakter. Senjata memiliki enam statistik detail—dari Base Power hingga Stamina Consumption—dan bisa di-upgrade hingga level lima menggunakan mata uang in-game.

Kamp utama berupa RV bernama "Guren" yang bisa dieksplorasi dalam first-person. Sistem AP (Action Point) mengharuskan pemain melakukan aktivitas seperti minum soda, olahraga, atau mandi untuk mendapatkan XP tambahan dan resistensi terhadap status efek. Uniknya, semua aktivitas membutuhkan fasilitas dan konsumsi spesifik yang harus dicari sendiri, seperti bathtub dan bath salts untuk mandi.

Sentuhan Budaya Pop dan Musik Era 80-an

Nuansa retro menjadi kekuatan terbesar game ini. Segmen pendakian gunung di Neo Yokohama menghadirkan atmosfer nostalgia yang kuat, sementara detail lingkungan seperti foliage dan air di penginapan onsen terlihat realistis. Musik latar sangat terinspirasi era Showa, bahkan salah satu segmen memutar cover Jepang dari lagu "Casablanca" oleh Hiromi Go.

Bahkan pengaturan kesulitan pun dibuat humoris: "Heisei Loser" untuk Normal dan "Showa Boy" untuk Hard. Beberapa cutscene menggunakan presentasi ala slideshow statis dengan voice acting tanpa lip-sync, sengaja meniru gaya film B retro. Ada juga mesin arcade yang bisa dimainkan, memberikan homage untuk Space Harrier dan OutRun dari Sega.

Kesimpulan: Menarik Tapi Belum Sempurna

Showa American Story berhasil membangun dunia B-movie yang absurd dan mudah diingat. Namun, kekurangan pada kedalaman pertarungan dan feel mekanis membuatnya masih tertinggal dari game AAA modern lainnya. Kepadatan parodi budaya yang luar biasa mungkin tidak akan mampu mempertahankan daya tariknya selama puluhan jam kampanye tanpa membuat pemain lelah.

Game ini tampaknya akan menjadi pengalaman yang sangat unik, penuh kekurangan, namun tetap menarik untuk diikuti. Belum ada tanggal rilis resmi yang diumumkan, tetapi game ini direncanakan hadir untuk PS5, Xbox Series, dan PC. Kami akan terus memantau perkembangan selanjutnya.

Reporter: Irwansyah Hakim
Sumber: ign.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top