KEPULAUAN RIAU — Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan angka tersebut saat ditemui di sela pemotongan hewan kurban di Jakarta, Jumat. Menurutnya, dari total target 4 juta ton, realisasi serapan sudah mendekati 3 juta ton atau hampir 75 persen.
“Kalau serapan gabah, alhamdulillah ini sudah sampai 74 persen. Nah, jadi kalau dari total 4 juta ton (target penyerapan di tahun 2026), kami sudah sampai 74 persen, hampir 75 persen. Berarti kan sudah hampir 3 juta ton realisasinya,” kata Rizal.
Rizal menambahkan, pencapaian ini tidak lepas dari kerja sama seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian lapangan (PPL) Kementerian Pertanian, hingga aparat TNI/Polri yang mengawal langsung proses serapan di lapangan.
Strategi Pentahelix dan Standar Mutu Gabah
Untuk menjaga kualitas produk yang masuk gudang, Bulog menerapkan kebijakan ketat: hanya gabah dan beras dengan standar kualitas tertentu yang diserap. Hasil panen harus mencapai usia optimal agar menghasilkan beras dengan tingkat kematangan baik saat diproses dan disimpan dalam jangka waktu tertentu.
Selain itu, Bulog mengadopsi strategi pentahelix dengan melibatkan akademisi dan media sebagai bagian dari pengawasan serta transparansi kinerja. “Nah ini semua juga support dari seluruh stakeholder dan peran dari para petani yang luar biasa menghasilkan gabah maupun padi serta beras yang cukup baik sehingga Bulog mampu menyerap semaksimal mungkin di daerah,” ucap Rizal.
Harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram, menjadi insentif bagi petani untuk terus memasok hasil panen ke Bulog.
Cadangan Beras Pemerintah Tembus 5,3 Juta Ton
Dengan serapan yang terus berjalan, stok cadangan beras pemerintah (CBP) saat ini telah mencapai 5,3 juta ton. Angka ini menjadi bantalan penting bagi stabilitas pangan nasional, terutama saat menghadapi tantangan global dan dinamika perubahan iklim.
Bulog berkomitmen memperkuat penyerapan hingga akhir tahun untuk memastikan target 4 juta ton tercapai penuh. Langkah ini sekaligus menjaga pasokan dan harga beras tetap terkendali di pasaran, terutama menjelang musim paceklik atau lonjakan permintaan.