Pencarian

Wakil Presiden AS JD Vance Tuding Ada Pejabat Israel yang Ingin Konflik dengan Iran Berlarut-larut

Kamis, 16 Juli 2026 • 11:12:01 WIB
Wakil Presiden AS JD Vance Tuding Ada Pejabat Israel yang Ingin Konflik dengan Iran Berlarut-larut
Wakil Presiden AS JD Vance menuding adanya segelintir pejabat Israel yang berupaya memperpanjang konflik dengan Iran demi memengaruhi opini publik Amerika.

KEPULAUAN RIAU — Vance menyebut kelompok kecil di dalam sistem pemerintahan Israel itu berupaya membentuk persepsi agar publik Amerika mendukung perang tanpa batas waktu melawan Teheran. "Ada segelintir orang di sistem pemerintahan Israel yang kami yakini sedang mencoba memengaruhi opini publik Amerika agar perang dengan Iran berlangsung tanpa batas waktu," ujar Vance dalam wawancara yang dikutip media setempat.

Meski melontarkan tuduhan keras, Vance menegaskan bahwa Presiden Donald Trump tidak akan terpengaruh oleh tekanan asing. Menurut dia, setiap keputusan strategis tetap berdasarkan kepentingan nasional Amerika Serikat. Ia menambahkan, komitmen utama Washington saat ini adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir, apa pun posisi yang diambil oleh pihak lain.

Kekhawatiran Tel Aviv terhadap Pergeseran Prioritas Washington

Pernyataan Vance muncul di saat hubungan antara Washington dan Tel Aviv tengah diuji. Laporan Al-Monitor yang mengutip sumber keamanan Israel menyebutkan bahwa kalangan intelijen Israel mulai khawatir terhadap perubahan prioritas Gedung Putih. Pemerintahan Trump dinilai lebih fokus pada pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz ketimbang upaya melumpuhkan program nuklir Iran secara langsung.

Kekhawatiran itu bukannya tanpa dasar. Dalam sepekan terakhir, militer AS melalui Komando Pusat (CENTCOM) telah melancarkan serangkaian serangan terhadap sasaran di Iran sejak 8 Juli. Washington menyebut operasi itu sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Iran Balas Serangan dan Tutup Selat Hormuz

Teheran tidak tinggal diam. Iran membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah, meningkatkan risiko meluasnya konflik regional. Pada Ahad (13/7), pemerintah Iran secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga intervensi militer Amerika Serikat di kawasan itu dihentikan.

Kebijakan penutupan itu merupakan respons langsung setelah kedua negara saling melancarkan serangan. Di hari yang sama, Presiden Trump menyatakan bahwa AS akan bertindak sebagai "penjaga" Selat Hormuz dan melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari strategi menghadapi Teheran.

Dua Narasi yang Bertabrakan di Panggung Diplomasi

Pernyataan Vance ini memecah kebekuan narasi yang selama ini dibangun oleh aliansi AS-Israel. Di satu sisi, Washington menegaskan independensi kebijakan luar negerinya. Di sisi lain, Tel Aviv justru mulai meragukan apakah sekutu lamanya itu masih memiliki kesamaan visi dalam menghadapi ancaman Iran.

Belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Israel atas tuduhan yang dilontarkan Wakil Presiden AS tersebut. Namun, pernyataan ini dipastikan akan menjadi bahan diskusi panas di kalangan diplomat dan analis keamanan kawasan dalam beberapa hari ke depan.

Bagikan
Sumber: medcom.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks