ANAMBAS — Bunga Raflesia dengan diameter sekitar 60 sentimeter mekar sempurna di tengah kawasan hutan yang masih asri. Kelopak merah bata berbintik putih khas Raflesia terlihat jelas saat rombongan tiba di lokasi.
Bupati Aneng menyebut momen mekarnya Raflesia hanya berlangsung beberapa hari dan tidak terjadi setiap tahun. Karena itu, keberadaannya harus dimanfaatkan untuk membangun kesadaran publik akan pentingnya menjaga habitat.
“Raflesia ini adalah kekayaan alam Anambas yang tidak ternilai. Mekarnya hanya beberapa hari dan belum tentu muncul setiap tahun. Karena itu habitatnya harus dijaga bersama. Jika alam terawat, wisata akan tumbuh dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Aneng.
Batu Tabir Disiapkan Jadi Lokasi Edukasi Lingkungan
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas berencana menjadikan kawasan Batu Tabir sebagai pusat edukasi lingkungan dan ekowisata. Wakil Bupati Raja Bayu menegaskan komitmen itu di hadapan para awak media yang ikut serta dalam perjalanan.
“Kami ingin Batu Tabir menjadi ruang belajar alam bagi pelajar, peneliti, maupun wisatawan pecinta lingkungan. Tetapi yang paling penting adalah menjaga kelestariannya. Jangan merusak, jangan memetik, dan jangan meninggalkan sampah,” tegas Raja Bayu.
Kehadiran awak media dalam kegiatan ini tidak sekadar meliput. Mereka menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi ekowisata Anambas melalui pemberitaan, foto, dan video yang akan dipublikasikan ke publik luas.
Anambas Tak Hanya Kaya Laut, Hutan Juga Simpan Potensi Besar
Selama ini Kepulauan Anambas lebih dikenal karena keindahan laut dan pantainya. Bupati Aneng menyebut kekayaan hutan yang dimiliki daerah juga menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata alam.
“Anambas tidak hanya kaya laut, tetapi juga kaya hutan dan keanekaragaman hayati. Raflesia Batu Tabir adalah aset daerah yang harus kita banggakan dan lestarikan. Wisata boleh berkembang, tetapi alam harus tetap terjaga,” pungkasnya.
Sebelum meninggalkan lokasi, Bupati Aneng kembali mengingatkan bahwa kekayaan alam Anambas merupakan warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan media disebutnya menjadi kunci utama dalam promosi wisata dan pelestarian lingkungan.