NATUNA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Natuna memaksimalkan layanan posyandu sebagai garda depan deteksi dini gangguan tumbuh kembang balita. Penanggung Jawab Program Gizi Dinkes Natuna, Abdurrohim, menyebut kehadiran balita di posyandu menjadi kunci untuk memetakan kondisi perkembangan anak di daerah kepulauan tersebut.
“Kalau kehadiran balita pada posyandu rendah, capaian stunting cenderung tinggi. Karena itu upaya kita sekarang memaksimalkan kehadiran balita karena sampai saat ini rata-rata masih di bawah target,” ujar Abdurrohim di Natuna, Jumat.
Target Cakupan 100 Persen pada Agustus 2026
Dinkes Natuna mencatat jumlah balita yang telah ditimbang masih di bawah 3.800 anak atau sebesar 75,94 persen dari total 4.929 jiwa yang terdata. Padahal, pemetaan kondisi stunting baru bisa akurat apabila cakupan penimbangan mencapai minimal 80 persen.
Menghadapi hal itu, Pemkab Natuna menggerakkan perangkat daerah dari tingkat RT, kelurahan, desa, hingga kecamatan untuk mengajak orang tua membawa balitanya ke posyandu. Intervensi serentak dijadwalkan berlangsung mulai 1 sampai 31 Agustus 2026.
Lama Penanganan Bervariasi Sesuai Kondisi Anak
Hasil penimbangan akan digunakan untuk mengetahui penyebab gangguan perkembangan anak sebelum dilakukan intervensi pencegahan. Dinkes Natuna menyiapkan sejumlah langkah penanganan yang disesuaikan dengan kategori kondisi balita:
- Anak dengan berat badan kurang menjalani intervensi selama 28 hari.
- Anak yang berat badannya tidak naik atau masuk kategori Bawah Garis Merah (BGM) ditangani selama 14 hari.
- Anak dengan kondisi gizi kurang mendapatkan intervensi selama 56 hari.
Bentuk intervensi yang diberikan meliputi edukasi kepada orang tua mengenai pemberian ASI dan Makanan Pendamping ASI (MPASI), serta pemberian makanan tambahan lokal.
Ibu Hamil Juga Jadi Sasaran Pencegahan
Upaya pencegahan stunting tidak hanya menyasar balita. Dinkes Natuna juga memberikan makanan tambahan kepada ibu hamil yang mengalami masalah gizi sebagai langkah antisipasi sejak masa kehamilan.
“Fokus kita lebih kepada pencegahan agar tidak muncul stunting baru dan jumlah kasus tidak bertambah. Kalau ditemukan gizi buruk, akan kita rujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut,” kata Abdurrohim.
Dengan adanya intervensi serentak ini, Pemkab Natuna berharap data kondisi balita dapat terpetakan secara menyeluruh, sehingga penanganan kasus stunting bisa lebih tepat sasaran dan angka kasus baru dapat ditekan.