Pemerintah Kabupaten Natuna memastikan tiga unit gudang Perum Bulog akan segera dibangun pada 2026 setelah seluruh proses administrasi dan lahan hibah dinyatakan rampung. Dua gudang akan berlokasi di pulau terdepan, yakni Serasan dan Pulau Laut, sementara satu unit lainnya berdiri di Pulau Midai.
NATUNA — Bupati Natuna, Kepulauan Riau, Cen Sui Lan memastikan pembangunan tiga gudang Perum Bulog tinggal menunggu eksekusi fisik di lapangan. Seluruh persyaratan administrasi dan lahan hibah dari pemerintah daerah telah diselesaikan.
"Alhamdulillah, kalau administrasi dan lahan sudah siap dan tinggal bangun fisiknya. Semua persyaratannya sudah kita siapkan," ucap Cen di Natuna, Jumat.
Lokasi Strategis di Pulau Terdepan dan Penyangga
Dua gudang akan dibangun di pulau terdepan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, yaitu Serasan dan Pulau Laut. Satu gudang tambahan lainnya berlokasi di Pulau Midai yang berstatus kawasan penyangga.
Dengan tambahan tiga fasilitas ini, total gudang Perum Bulog di Kabupaten Natuna menjadi lima unit. Sebelumnya, Bulog telah mengoperasikan dua gudang di Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, serta Ranai di ibu kota kabupaten, Kecamatan Bunguran Timur.
Mengapa Gudang Baru Menjadi Prioritas?
Pembangunan infrastruktur pascapanen ini merupakan respons atas kondisi geografis Natuna yang berupa kepulauan. Akses distribusi bahan pokok antar pulau kerap terhambat, sehingga risiko kelangkaan stok beras di masyarakat cukup tinggi.
"Ketiga gudang ini dibangun mengacu pada kondisi geografis Natuna yang berupa kepulauan yang notabene sulit dijangkau dalam pelayanan terhadap masyarakat. Jadi, ini untuk keterjangkauan dan kecepatan pelayanan terhadap masyarakat. Supaya tidak terjadi lagi kelangkaan bahan pokok," kata Cen.
Dukungan Penuh Pemkab untuk Ketahanan Pangan
Lahan untuk ketiga gudang tersebut merupakan hibah dari Pemkab Natuna. Langkah ini dinilai sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan pangan di wilayah perbatasan.
Kehadiran gudang ini diharapkan memperlancar distribusi dan memastikan ketersediaan stok bahan pokok, terutama beras, bagi warga di pulau-pulau terluar. Targetnya, pelayanan logistik ke masyarakat bisa lebih cepat dan tidak lagi bergantung penuh pada pasokan dari pusat kabupaten.