KEPULAUAN RIAU — Pertandingan di Stadion Atlanta bukan sekadar perebutan tiket ke final. Bagi Messi, ini adalah misi pribadi untuk menaklukkan satu-satunya raksasa Eropa yang belum pernah ia hadapi sepanjang karier internasionalnya.
Kesempatan emas pertama Messi untuk bertemu Inggris muncul pada 2005. Saat itu, ia masih remaja yang baru bersinar di Barcelona dan dijadwalkan tampil dalam laga persahabatan melawan Inggris di Jenewa, Swiss.
Namun, tiga bulan sebelum pertandingan, Messi menjalani debut senior bersama Argentina melawan Hungaria. Ia masuk sebagai pemain pengganti, tapi hanya bertahan 47 detik sebelum diusir keluar lapangan akibat kartu merah langsung.
Hukuman skorsing membuatnya absen di laga kontra Inggris. Tanpa Messi, Argentina kalah 2-3. Sang calon maestro hanya bisa menyaksikan dari tribun.
Selama dua dekade berikutnya, duel Messi vs Inggris tak kunjung terwujud. Bukan karena faktor teknis, melainkan masalah finansial.
Seiring status Messi yang meroket sebagai pemain terbaik dunia, Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) mematok tarif tinggi untuk setiap laga uji coba. Biaya mendatangkan Argentina dengan jaminan kehadiran Messi mencapai 3 juta hingga 4 juta pound sterling per pertandingan—setara Rp60 miliar hingga Rp80 miliar.
Belum lagi biaya operasional dan akomodasi akibat jarak geografis Argentina yang jauh. Angka-angka itu membuat Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) enggan melangkah lebih jauh untuk menggandeng Argentina dalam laga persahabatan.
Setelah bertahun-tahun terhalang kartu merah dan mahalnya klausul bisnis, Piala Dunia 2026 akhirnya mempertemukan Messi dengan Inggris. Laga semifinal ini menjadi panggung yang tak bisa dihindari oleh kedua tim.
Bagi Messi, pertandingan ini juga menjadi penutup celah unik dalam karier gemilangnya. Peraih delapan Ballon d'Or itu telah merengkuh hampir semua trofi bergengsi dan menghadapi hampir semua raksasa Eropa—kecuali Inggris.
Kini, penantian panjang itu berakhir di Atlanta. (wiw/abs)