JAKARTA — Industri penyedia layanan internet (ISP) di Indonesia memasuki babak baru setelah PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (Moratelindo) dan PT Eka Mas Republik (MyRepublic) resmi bergabung. Entitas hasil merger ini menggunakan nama PT Ekamas Mora Republik Tbk. atau MoraRepublic untuk memperkuat dominasi di pasar fixed broadband nasional.
Langkah strategis ini menggabungkan kekuatan infrastruktur backbone milik Moratelindo dengan jangkauan layanan fiber to the home (FTTH) dari MyRepublic. Integrasi tersebut dirancang untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih stabil dan luas, terutama dalam melayani kebutuhan internet rumah yang terus meningkat.
Chief Regulatory & Corporate Affairs Officer MoraRepublic, Resi Y. Bramani, menjelaskan bahwa sinergi ini bertujuan mengoptimalkan kualitas layanan bagi pelanggan. Jangkauan yang lebih luas dan koneksi yang lebih andal menjadi target utama dari penggabungan dua kekuatan besar telekomunikasi tersebut.
Strategi Integrasi Backbone dan Layanan Last Mile
MoraRepublic kini mengedepankan strategi end-to-end dengan mengoptimalkan infrastruktur terintegrasi. Perusahaan mengelola aset mulai dari jaringan kabel utama (backbone), pusat data (data center), hingga sambungan langsung ke rumah pelanggan atau last mile.
Data internal menunjukkan lonjakan signifikan pada skala bisnis perusahaan pasca-merger. Sebelum penggabungan yang efektif pada 22 April 2026 ini, Moratelindo melalui brand Oxygen.id memiliki hampir 300.000 pelanggan ritel. Sementara itu, MyRepublic mencatatkan sekitar 1,5 juta pelanggan ritel dengan sebaran 8,7 juta homepass.
"Sinergi ini akan memperkuat kualitas layanan yang lebih cepat dan stabil, memperluas jangkauan, serta membuka peluang pertumbuhan yang lebih besar bagi pelanggan, karyawan, dan perusahaan secara keseluruhan," kata Resi Y. Bramani dalam keterangan resminya.
Bagaimana Dampak Merger Terhadap Harga Berlangganan?
Konsumen sering kali mengkhawatirkan kenaikan tarif saat terjadi konsolidasi perusahaan besar. Namun, manajemen MoraRepublic memastikan tidak ada perubahan harga layanan secara langsung akibat aksi korporasi ini. Fokus perusahaan saat ini adalah peningkatan pengalaman digital pelanggan tanpa mengganggu struktur tarif yang sudah ada.
Perusahaan justru berencana memperkuat proposisi nilai melalui pengembangan layanan tambahan. Strategi cross-selling akan diterapkan untuk menghadirkan paket layanan yang lebih komprehensif bagi segmen ritel maupun korporasi di berbagai wilayah, termasuk ekspansi di kota-kota besar seperti Batam dan sekitarnya.
"Guna menghadirkan pengalaman digital yang lebih komprehensif dan relevan dengan kebutuhan pelanggan," ujar Resi menambahkan terkait pengembangan layanan ke depan.
Respons Telkom dan XLSmart Hadapi Peta Persaingan Baru
Munculnya MoraRepublic memicu respons dari pemain besar lainnya di industri telekomunikasi. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) menilai konsolidasi adalah fase alami dalam pematangan industri yang padat modal. Telkom tetap percaya diri dengan keunggulan infrastruktur yang mereka miliki saat ini.
Direktur Strategic Business Development and Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menyatakan bahwa daya saing ke depan tidak hanya ditentukan oleh luasnya jaringan. Kemampuan perusahaan dalam menghadirkan layanan yang relevan dengan kebutuhan spesifik pelanggan akan menjadi kunci utama memenangkan pasar.
"Konsolidasi akan mendorong efisiensi, memperkuat skala bisnis, serta meningkatkan kualitas layanan secara keseluruhan," kata Seno Soemadji.
Senada dengan Telkom, PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk. (XLSmart) melihat merger sebagai dinamika bisnis yang wajar. GH Corporate Communication and Sustainability XLSmart, Reza Mirza, menyebutkan bahwa konsolidasi sangat penting untuk membangun industri internet yang lebih sehat dan berkelanjutan di Indonesia.
Hyper-Competition di Tengah Ribuan Pemain ISP Lokal
Direktur ICT Institute, Heru Sutadi, memberikan catatan kritis terhadap kondisi pasar internet rumah saat ini. Menurutnya, persaingan sudah masuk dalam tahap hyper-competition yang sangat ketat. Kondisi ini membuat banyak pemain kesulitan bertahan jika tidak melakukan efisiensi besar-besaran.
Berdasarkan data industri, saat ini terdapat lebih dari 1.200 hingga 1.500 perusahaan penyedia layanan internet resmi di Indonesia. Jumlah ini belum termasuk pemain ilegal yang jumlahnya diprediksi jauh lebih banyak, sehingga menekan margin keuntungan para penyedia layanan resmi.
Heru memprediksi tren merger akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Konsolidasi tidak hanya akan terjadi antar-ISP, tetapi juga melibatkan penyedia jaringan fiber dan teknologi satelit untuk memperkuat posisi tawar di pasar yang semakin jenuh.