KEPULAUAN RIAU — Direktur Utama PT Pos Indonesia Daud Joseph mengungkapkan, konsolidasi tahap awal akan dimulai pada 1 Juli 2026 dengan menggabungkan tujuh BUMN logistik ke dalam PT Multi Terminal Indonesia (MTI). Kepemilikan saham di fase ini didominasi Pelindo sebesar 73%, sementara Pos Indonesia memegang 9%, dan lima perusahaan lainnya menguasai 17%.
Ketujuh perusahaan yang bergabung di tahap pertama adalah PT Multi Terminal Indonesia (MTI) dan PT Prima Indonesia Logistik (PIL) yang merupakan anak usaha Pelindo, PT Pos Logistik Indonesia (Poslog) milik Pos Indonesia, PT Sarana Bandar Logistik (SBL) milik PT Pelni, serta PT KBN Prima Logistik (KPL) dari Danareksa. Dua lainnya adalah PT Varia Usaha Dharma Segara (VUDS) dari SIG dan PT Krakatau Jasa Logistik (KJL) dari Krakatau Steel.
Dua Perusahaan Tambahan Masuk pada 2027
Pada fase berikutnya, holding akan diperluas dengan masuknya PT Semen Indonesia Logistik (Silog) dan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog). Keputusan ini berdasarkan surat dari Danantara Aset Manajemen.
"Nantinya berarti sudah ada sembilan BUMN logistik yang bergabung di bawah perusahaan Pos Indonesia," kata Daud dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR, Senin (22/6/2026).
Jaringan Distribusi Melonjak Dua Kali Lipat
Salah satu dampak langsung dari konsolidasi ini adalah perluasan jangkauan layanan. Saat ini, total titik distribusi gabungan perusahaan-perusahaan tersebut hanya 78 lokasi. Setelah merger, jumlahnya ditargetkan bertambah menjadi 150 hingga 160 titik bisnis di seluruh Indonesia.
"Perusahaan yang selama ini hanya kuat di wilayah tertentu nantinya dapat memanfaatkan jaringan perusahaan lain untuk memperluas jangkauan," jelas Daud.
Memotong Duplikasi Margin, Menekan Biaya
Selama ini, setiap mata rantai logistik dijalankan oleh perusahaan berbeda yang masing-masing mengambil margin keuntungan sendiri. Akibatnya, biaya yang dibebankan ke konsumen menjadi berlapis.
"Nantinya setelah digabung menjadi satu perusahaan, profit margin-nya hanya menjadi satu. Sehingga akan memotong duplikasi profit margin dan menurunkan biaya logistik secara keseluruhan," papar Daud.
Dari sisi keuangan, perusahaan gabungan diproyeksikan membukukan pendapatan Rp2,38 triliun dengan laba sekitar Rp100 miliar pada tahun pertama operasi. Seluruh saham perusahaan nantinya akan sepenuhnya berada di bawah Pos Indonesia pada 2027.
Konsolidasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menekan biaya logistik nasional yang selama ini dinilai masih tinggi dibandingkan negara tetangga. Dengan satu komando di bawah Pos Indonesia, distribusi barang dari Sabang sampai Merauke diharapkan bisa lebih efisien dan terintegrasi.