Pencarian

Ekspor RI Merosot 5,73% di Mei 2026, Sektor Perhiasan dan Besi Baja Jadi Biang Kerok

Rabu, 01 Juli 2026 • 13:57:01 WIB
Ekspor RI Merosot 5,73% di Mei 2026, Sektor Perhiasan dan Besi Baja Jadi Biang Kerok
Ekspor Indonesia Mei 2026 turun 5,73%, didorong oleh penurunan sektor perhiasan dan besi baja.

KEPULAUAN RIAU — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pelemahan ekspor terjadi di sektor migas dan nonmigas. Meskipun secara kumulatif ekspor Januari-Mei 2026 masih tumbuh 3,02%, performa bulanan yang negatif ini patut dicermati. Penurunan paling dalam terjadi pada ekspor perhiasan dan logam mulia, yang merupakan produk unggulan Antam.

Antam dan Krakatau Steel Tertekan Turunnya Permintaan Global

Bagi Antam, penurunan ekspor perhiasan berarti berkurangnya penerimaan devisa dan potensi pendapatan. Sektor ini sangat bergantung pada daya beli pasar Timur Tengah dan Eropa yang saat ini melambat. Sementara itu, ekspor besi dan baja yang merupakan produk utama Krakatau Steel juga ikut anjlok seiring lesunya industri konstruksi di negara tujuan utama, seperti Tiongkok.

Kondisi ini bisa berdampak pada target pendapatan kedua BUMN tersebut. Sebelumnya, Antam menargetkan pertumbuhan penjualan emas di atas 10% pada 2026. Namun, dengan tren ekspor yang menurun, realisasi angka tersebut patut dipertanyakan.

Kinerja Ekspor Nonmigas: Batu Bara Masih Jadi Penopang

Meski secara keseluruhan turun, beberapa komoditas masih mencatatkan pertumbuhan. Ekspor batu bara, yang menjadi andalan PT Bukit Asam Tbk, masih menunjukkan performa positif. Hal ini menjadi bantalan bagi angka ekspor nasional agar tidak jatuh lebih dalam.

Di sisi lain, ekspor produk manufaktur seperti alas kaki dan furnitur juga mengalami perlambatan. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan BUMN untuk mendorong hilirisasi agar nilai tambah produk lebih tinggi dan tidak mudah terguncang oleh fluktuasi harga komoditas global.

Apa Langkah Selanjutnya untuk BUMN Sektor Ekspor?

Pemerintah melalui Kementerian BUMN diprediksi akan mendorong perusahaan pelat merah untuk memperluas pasar non-tradisional, seperti Afrika dan Asia Selatan. Langkah ini dinilai krusial untuk mengurangi ketergantungan pada pasar utama yang sedang lesu. Bagi Antam dan Krakatau Steel, diversifikasi pasar menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pendapatan di tengah tekanan ekspor yang masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Penurunan ekspor Mei 2026 ini menjadi pengingat bahwa perekonomian Indonesia masih rentan terhadap gejolak eksternal. Ketergantungan pada komoditas primer membuat kinerja ekspor sangat sensitif terhadap perubahan permintaan global. Tanpa percepatan hilirisasi dan inovasi produk, tren negatif ini berisiko berlanjut.

Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks