NATUNA — Puluhan orangtua atau wali murid kelas I hingga VI SDN 007 Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur, mengikuti sesi edukasi yang digelar pada Sabtu pagi. Materi yang disampaikan mencakup bentuk-bentuk kekerasan, dampaknya terhadap psikologis anak, serta langkah pencegahan yang bisa dilakukan di lingkungan keluarga dan sekolah.
Mengapa Orangtua Menjadi Sasaran Edukasi?
Kepala DP3AP2KB Natuna Sri Riawati menyebut bahwa keluarga memegang peranan penting dalam membentuk pola asuh positif. Menurutnya, pemahaman orangtua terhadap risiko kekerasan dan perundungan masih perlu diperkuat.
"Kami memberikan pemahaman kepada orang tua agar lebih peduli terhadap kondisi anak, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah," kata Sri Riawati di Natuna, Sabtu.
Dampak Psikologis yang Perlu Diwaspadai
Dalam sesi tersebut, para orangtua diajak mengenali perubahan perilaku anak yang bisa menjadi tanda awal kekerasan atau perundungan. Sri Riawati menekankan bahwa dampak psikologis pada anak sering kali tidak terlihat langsung, tetapi bisa memengaruhi perkembangan mental jangka panjang.
Oleh karena itu, komunikasi yang intens antara orangtua dan anak menjadi kunci utama dalam mendeteksi serta mencegah potensi kekerasan.
Arahan untuk Pola Asuh Positif
Pemkab Natuna berharap melalui kegiatan ini, para orangtua mampu membangun pola asuh yang lebih positif. Peningkatan komunikasi dua arah antara orangtua dan anak dinilai dapat menekan risiko perundungan, baik di rumah maupun di sekolah.
"Kami terus mendorong keterlibatan berbagai pihak, termasuk sekolah dan keluarga, dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak," ujar Sri Riawati.
Kegiatan serupa direncanakan bakal menyasar sekolah-sekolah lain di Kabupaten Natuna secara bertahap. DP3AP2KB setempat berkomitmen memperkuat peran orangtua sebagai garda terdepan perlindungan anak dari kekerasan dan perundungan.