KEPULAUAN RIAU — Pasar saham properti Vietnam tengah mengalami tekanan berat. Berdasarkan data perdagangan terbaru, saham Saigon Thuong Tin Real Estate (SCR) anjlok hampir 60% dari posisi 10.100 VND pada Agustus lalu menjadi hanya 4.440 VND per saham pada sesi pagi ini. Saham CEO Group (CEO) juga jatuh lebih dari 60% dalam setahun, dari 30.400 VND menjadi 11.300 VND per saham.
Keluarga Pendiri DIC Corp Tergusur Setelah Margin Call
Kasus paling dramatis terjadi pada DIC Corporation (DIG). Sejak Nguyen Hung Cuong menggantikan ayahnya yang meninggal sebagai Ketua Dewan Direksi pada Agustus 2024, harga saham DIG terus merosot dari 19.900 VND menjadi 10.000 VND. Puncaknya, antara 21-23 Juli lalu, lebih dari 14,3 juta saham DIG milik keluarga Cuong terpaksa dilikuidasi paksa oleh broker akibat margin call. Setelah peristiwa itu, tidak ada satu pun anggota keluarga yang tersisa sebagai pemegang saham utama di DIC Corp.
Arus Kas Negatif dan Target Laba Jeblok
Kinerja fundamental perusahaan juga tak mendukung. Pada 2024, meski pendapatan DIG naik 27% menjadi 1.300 miliar VND, laba bersih justru turun ke 102 miliar VND—hanya 16% dari target laba sebelum pajak. Lebih mengkhawatirkan, arus kas operasional pada kuartal I-2025 mencatat defisit 437 miliar VND. Proyeksi optimistis 2025 yang menargetkan laba 606 miliar VND pun ditopang oleh penjualan aset proyek, bukan bisnis inti yang berkelanjutan.
Dana Asing Cabut dari Bluemarq Group
Saham DXG milik Bluemarq Group (dahulu Dat Xanh) juga kehilangan hampir setengah nilainya, dari 18.400 VND menjadi 10.100 VND. Tekanan jual diperparah oleh aksi grup dana Dragon Capital yang melepas 546.200 saham DXG pada pertengahan tahun, sehingga kepemilikan mereka turun di bawah 5% dan tak lagi berstatus pemegang saham utama. Saham anak usahanya, DXS, bahkan ambles ke level 5.680 VND per saham.
Kondisi serupa juga melanda emiten properti lain: SGR turun 54%, VNI melemah 47%, dan SZC terkoreksi 34% dalam setahun. Sebagian besar perusahaan mencatatkan arus kas operasional negatif yang tajam—SCR misalnya, defisit arus kas mencapai 651 miliar VND pada kuartal I-2025, naik dari 247 miliar VND pada periode yang sama tahun lalu.
Koreksi Dalam vs. Peluang Rebound
Dengan valuasi yang sudah terdiskon lebih dari separuh, sejumlah saham properti Vietnam kini diperdagangkan di bawah nilai nominal. Namun, para analis memperingatkan bahwa pemulihan harga masih sangat bergantung pada kemampuan emiten membalikkan arus kas operasional dan memperbaiki tata kelola perusahaan. Selama likuidasi paksa dan aksi jual asing belum berhenti, tekanan jual di sektor ini diperkirakan masih akan berlanjut.