KEPULAUAN RIAU — Pemerintah mengubah strategi lelang energi panas bumi tahun ini dengan menawarkan 14 wilayah kerja sekaligus. Sebelumnya, proses lelang dilakukan bertahap setiap tahun dengan jumlah wilayah yang lebih sedikit. Percepatan ini didorong oleh kebutuhan pasokan listrik yang mendesak di sejumlah pulau.
"Karena kebutuhan listrik itu urgent sekarang. Sumatera sangat kekurangan, Sulawesi kekurangan, Jawa saja digoyang sedikit kemarin langsung macam-macam. Ini berarti perlu listrik yang base load, perlu listrik yang stabil," ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiyani Dewi, di Jakarta, Kamis (20/8).
Sebaran Wilayah dan Cadangan Terbesar
Konsentrasi wilayah lelang terbanyak berada di Jawa Timur dengan empat WKP, disusul Jawa Barat dengan dua WKP. Dari total 732 MW potensi cadangan, tiga wilayah dengan kapasitas terbesar menjadi perhatian utama calon pengembang.
Gunung Hyang Argopuro di Jawa Timur memimpin dengan cadangan 185 MW, disusul Gunung Galunggung di Jawa Barat sebesar 125 MW, dan Lainea di Sulawesi Tenggara dengan potensi 68 MW. Wilayah lainnya meliputi Sembalun di Nusa Tenggara Barat (11 MW), Guci di Jawa Tengah (20 MW), Suwawa di Gorontalo (20 MW), Gunung Ciremai di Jawa Barat (40 MW), Marana di Sulawesi Tengah (28 MW), Gunung Pandan di Jawa Timur (30 MW), Sipoholon Ria-Ria di Sumatera Utara (35 MW), Gunung Endut di Banten (38 MW), Songgoriti di Jawa Timur (40 MW), Danau Ranau di Lampung-Sumatera Selatan (42 MW), dan Gunung Wilis di Jawa Timur (50 MW).
Target COD Proyek Panas Bumi Hingga 2033
Pemerintah juga memasang target Commercial Operation Date (COD) untuk masing-masing proyek. Sebagian besar ditargetkan rampung pada 2033, dengan kapasitas terpasang yang berbeda dari potensi cadangan.
Gunung Iyang Argopuro ditargetkan beroperasi dengan kapasitas 55 MW pada 2033, sementara Gunung Galunggung menargetkan 110 MW pada tahun yang sama. Gunung Pandan di Jawa Timur menjadi salah satu yang lebih cepat dengan target COD 2032 sebesar 60 MW. Proyek lain seperti Sembalun (10 MW), Guci (20 MW), Gunung Ciremai (25 MW), Gunung Endut (35 MW), Songgoriti (40 MW), Danau Ranau (40 MW), dan Gunung Wilis (40 MW) semuanya dijadwalkan COD pada 2033.
Lelang serentak ini diharapkan menarik minat pengembang swasta dan BUMN untuk berinvestasi di sektor panas bumi. Pasalnya, energi panas bumi dinilai sebagai sumber listrik base load yang stabil dibandingkan intermiten seperti surya dan angin, sehingga mampu menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional.