KEPULAUAN RIAU — Kepemimpinan baru ini diresmikan melalui Musyawarah Nasional (Munas) XII API/INAGA yang digelar Kamis (20/08/2026) di Jakarta Convention Center, Senayan. Ahmad Yani menggantikan kepengurusan sebelumnya dan langsung dihadapkan pada pekerjaan rumah struktural: mengejar ketertinggalan pemanfaatan panas bumi yang selama satu abad terakhir baru terkelola sekitar 2,6 GW.
Prioritas pertama yang ia angkat bukan sekadar penambahan kapasitas terpasang, melainkan perbaikan fundamental ekosistem bisnis. Menurutnya, pengembangan panas bumi membutuhkan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, akademisi, penyedia teknologi, dan masyarakat.
Dua Pekerjaan Rumah Utama: Tarif dan Insentif
Dalam pernyataan resminya, Ahmad Yani menyebut tantangan utama industri bukan terletak pada ketersediaan sumber daya alam, melainkan pada struktur keekonomian proyek. Ia menekankan perlunya perbaikan skema tarif dan usulan insentif agar proyek panas bumi layak secara finansial bagi investor.
"Indonesia memiliki potensi panas bumi yang besar, yakni 24 gigawatt (GW). API akan terus menjadi partner terpercaya pemerintah dalam mendorong pengembangannya, termasuk dengan mengawal roadmap kedaulatan energi pemerintah. Saat ini, kami telah memetakan potensi sebesar 3 GW yang dapat dikembangkan. Akan tetapi, pengembangannya dihadapi oleh tantangan, termasuk bagaimana menciptakan iklim investasi yang semakin feasible dan bankable. Perlu perbaikan skema tarif, usulan insentif, serta keberpihakan yang diperlukan agar industri panas bumi dapat tumbuh," ujar Ahmad Yani.
Ia menambahkan, aspek kesiapan sumber daya manusia (SDM), teknologi, dan penerimaan sosial masyarakat juga menjadi variabel krusial yang harus dipastikan dalam setiap pengembangan proyek. Tanpa keempat pilar tersebut, proyek yang secara teknis potensial bisa gagal di tahap implementasi.
Rekam Jejak dan Tantangan 100 Tahun Panas Bumi
Momentum terpilihnya Ahmad Yani bertepatan dengan peringatan satu abad pengeboran sumur panas bumi pertama di Kamojang, Jawa Barat. Capaian historis tersebut menjadi ironi ketika kapasitas terpasang nasional saat ini masih tertinggal jauh dibandingkan potensi yang ada.
Jabatan Ketua Umum API ini bukan posisi pertama Ahmad Yani di industri. Ia telah berkarier lebih dari 20 tahun di hulu hingga hilir panas bumi, dengan kompetensi di reservoir engineering, eksplorasi, operasi produksi, hingga pengeboran. Sebelum memimpin PGE pada Januari 2026, ia menjabat Direktur Operasi sejak 2023 dan sempat menangani sejumlah inovasi seperti pilot project green hydrogen di Ulubelu serta pengembangan teknologi Flow2Max® dan G-Bionic.
Dari sisi akademis, ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Perminyakan dari Universitas Islam Riau pada 2003 dan meraih gelar Magister Ilmu Fisika dengan fokus Geothermal Exploration dari Universitas Indonesia pada 2023.
Target 3 GW dan Peran API ke Depan
API/INAGA menegaskan perannya sebagai mitra pemerintah dalam mendorong pengembangan EBT. Dengan peta jalan yang telah disusun, asosiasi menargetkan pengembangan potensi 3 GW yang telah terpetakan sebagai langkah awal mengejar pangsa pasar energi bersih nasional.
Langkah ini dinilai krusial mengingat transisi energi nasional membutuhkan kontribusi nyata dari sektor geothermal, bukan sekadar komitmen di atas kertas. Keberhasilan target tersebut akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah merespons usulan perbaikan tarif dan insentif yang diajukan asosiasi dalam waktu dekat.