BATAM — Generasi muda Batam dinilai makin dekat dengan produk keuangan digital, tetapi pemahaman tentang risiko dan fundamental aset masih tertinggal. Sekda Batam Firmasyah mengingatkan agar mahasiswa tidak mengambil keputusan finansial hanya karena tren sesaat.
Firmasyah menyebut akses ke layanan keuangan memang sudah sangat luas. Namun, kemudahan itu harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis tentang apa yang mereka beli, investasikan, atau gunakan setiap hari.
Kesenjangan Inklusi dan Literasi Anak Muda
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026, indeks inklusi keuangan nasional mencapai 93,61 persen. Adapun tingkat literasi keuangan nasional baru berada di angka 69,57 persen.
Kondisi serupa juga terjadi di kelompok usia 18-25 tahun. Angka inklusi menyentuh 95,69 persen, tetapi literasi hanya 73,32 persen. Untuk kelompok pelajar dan mahasiswa, inklusi keuangan sebesar 92,76 persen berbanding literasi 62,72 persen.
“Artinya, anak muda kita sudah semakin dekat dengan produk dan layanan keuangan, tetapi belum semuanya punya pemahaman memadai tentang bagaimana menggunakannya secara bijak,” kata Firmasyah.
Jangan FOMO, Pahami Fundamental Aset
Menurut Firmasyah, kemajuan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), aset kripto, tokenisasi Real-World Assets (RWA), dan stablecoin harus dipahami utuh. Pemahaman itu tidak cukup sampai cara kerja teknologi, tetapi juga soal risiko investasi, keamanan platform, hingga legalitas.
“Jangan sampai karena fomo, kita mengambil keputusan finansial tanpa memahami fundamental aset, risiko investasi, keamanan platform, maupun legalitasnya,” tegasnya.
Ia meminta mahasiswa bertanya lebih dalam sebelum berinvestasi. Bukan sekadar mengikuti hal yang sedang tren, melainkan mempertimbangkan nilai fundamental serta dampak jangka panjangnya.
Batam Butuh Pencipta Inovasi, Bukan Sekadar Pengguna
Firmasyah juga menekankan posisi strategis Batam sebagai pusat industri, perdagangan, jasa, dan investasi. Potensi itu seharusnya dimanfaatkan generasi muda untuk memperkuat daya saing daerah.
Mahasiswa didorong berkembang dari sekadar pengguna teknologi menjadi pencipta inovasi sekaligus pelaku ekonomi digital. Kolaborasi antara pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perguruan tinggi, industri, dan generasi muda dinilai jadi kunci membangun ekosistem keuangan digital yang aman dan inklusif.
“Batam tidak cukup hanya menjadi kota yang cepat mengikuti perkembangan teknologi. Batam harus mampu melahirkan generasi muda yang menciptakan inovasi, membuka peluang, dan mengambil peran dalam menentukan arah ekonomi digital,” ujarnya.