TANJUNGPINANG — Tren positif kunjungan wisman ke Tanjungpinang terjadi di saat daerah tetangga seperti Batam, Bintan, dan Karimun justru mencatat penurunan. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tanjungpinang, Muhammad Nazri, menyebut data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kenaikan bertahap sejak awal tahun.
Pada Januari 2026, kunjungan tercatat 4.030 orang, naik menjadi 5.047 pada Februari, dan kembali meningkat menjadi 5.622 pada Maret 2026. “Negara asal wisman itu mayoritas berasal dari Singapura, diikuti Malaysia, Tiongkok, India dan Korea Selatan,” kata Nazri, Minggu.
Warisan Budaya Melayu dan Pulau Penyengat Jadi Magnet Utama
Menurut Nazri, warisan budaya Melayu dan pesona Pulau Penyengat masih menjadi daya tarik utama. Ia menilai peningkatan ini menjadi sinyal positif bagi sektor pariwisata Tanjungpinang yang selama ini mengandalkan kekuatan wisata budaya, sejarah, religi, hingga kuliner khas Melayu.
ASITA: Jadwal Feri dari Malaysia Bikin Wisman “Kehilangan Waktu”
Ketua ASITA Tanjungpinang-Bintan, Sapril Sembiring, menyambut baik kenaikan 3,89 persen kunjungan pada Maret dibanding Februari. Namun, ia mendorong pemkot lebih kreatif. “Sebagai pelaku usaha wisata, kami menilai banyak yang harus ditingkatkan. Perlu kreativitas dari pemkot bersama seluruh pemangku kepentingan terkait,” ujar Sapril.
Sapril menyoroti jadwal kedatangan kapal feri dari Malaysia yang tiba di Terminal Internasional Pelabuhan Sri Bintan Pura (SBP) pada sore hari, sementara jadwal keberangkatan kembali keesokan paginya. Kondisi itu praktis membuat wisman, terutama yang berkunjung satu hari, tidak punya banyak waktu untuk berwisata.
“Dengan tarif yang lebih mahal dan waktu perjalanan yang lebih lama, wisman cenderung memilih tujuan kedatangan di Kota Batam. Terlebih kita tidak mampu menyuguhkan daya tarik wisata pada malam hari, sehingga tak ada yang membuat wisman ingin mengulang kembali kunjungannya,” ungkap Sapril.
Kawasan Tepi Laut dan Gedung Gonggong Bisa Jadi Alternatif
Sapril mengusulkan agar pemkot membicarakan penyesuaian jadwal feri bersama operator kapal dan otoritas pelabuhan. Ia juga mendorong perbaikan kualitas dan pengayaan destinasi wisata. Menurutnya, kawasan Tepi Laut dan Gedung Gonggong jika dikelola lebih baik bisa menjadi destinasi wisata alternatif selain Pulau Penyengat.
“Jika ada objek wisata atau atraksi wisata yang terjadwal secara kontinyu, tentu akan lebih banyak paket wisata yang bisa dijual dari Tanjungpinang. Perlu kerja sama dengan pemerintah provinsi, biro perjalanan wisata dan pihak terkait ke lainnya,” demikian Sapril.