BATAM — KUA Kecamatan Sekupang bersama STIQ Kepri menggelar seminar Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) di Aula STIQ Kepri pada Sabtu lalu. Acara yang mengusung tema "KUA Hadir Menemani, Mengatasi 'Marriage is Scary'" ini dihadiri oleh puluhan mahasiswa dan warga sekitar.
Seminar ini merupakan respons atas keresahan generasi muda terhadap institusi pernikahan yang kerap digambarkan menakutkan di jagat maya. Lewat kegiatan ini, peserta diajak memahami ulang makna pernikahan dari sisi agama dan hukum.
Penyuluh KUA Bongkar Fungsi Baru KUA
Penyuluh Agama Islam KUA Sekupang, Bima Sakti, membuka sesi pertama dengan memaparkan transformasi peran KUA. Menurutnya, KUA kini tidak hanya melayani pencatatan nikah, tetapi juga memfasilitasi program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), BRUN, Bimbingan Perkawinan, konsultasi rumah tangga, hingga pembinaan muallaf.
"KUA hadir sebagai mitra bagi siapa pun yang ingin mempersiapkan pernikahan dengan matang," ujarnya di hadapan peserta.
Penghulu Ungkap Akar Kecemasan Remaha soal Pernikahan
Penghulu KUA Sekupang, Rizkhan Frianda, mengupas tuntas sisi hukum pernikahan serta akar dari fenomena 'Marriage is Scary'. Ia menekankan bahwa ketakutan itu muncul karena kurangnya kesiapan mental dan pemahaman yang utuh tentang pernikahan.
"Pernikahan itu bukan tentang siapa cepat, tapi tentang siapa yang siap untuk berlayar," tegas Rizkhan mengingatkan para mahasiswa agar tidak terburu-buru tanpa bekal yang cukup.
STIQ dan KUA Teken Kerja Sama Jangka Panjang
Di sela-sela seminar, STIQ Kepri dan KUA Kecamatan Sekupang resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) sebagai bentuk komitmen berkelanjutan. Kerja sama ini diharapkan mampu memperkuat literasi pernikahan di kalangan mahasiswa.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Departemen Keilmuan Unit Kegiatan Mahasiswa Hai’atu Tahfidzul Qur’an (UKM HTQ) Kabinet Madinatul Qur'an ini berlangsung interaktif. Para peserta terlihat antusias dan membawa alat tulis serta buku catatan selama acara berlangsung.
Melalui sinergi antara akademisi dan instansi keagamaan ini, diharapkan remaja usia nikah di Batam dapat mengikis ketakutan mereka dan lebih siap menyongsong masa depan keluarga yang kokoh dan terencana.