NATUNA — Masyarakat umumnya mengenal BPJS Kesehatan hanya sebagai kartu untuk berobat. Namun di Pulau Sedanau, ujung utara Kepulauan Riau, program Prolanis justru menjadi bukti bahwa sisi promotif dan preventif JKN bisa berjalan efektif, bahkan di wilayah yang aksesnya terbatas.
Puskesmas Sedanau mengelola Prolanis Bermartabat — akronim dari BERsama MARi paTuh terhAdap pengoBATan — yang baru berjalan sekitar 1,4 tahun. Meski usianya lebih muda dibanding program serupa di puskesmas lain di Natuna, jumlah pesertanya terus bertambah.
Ketua Prolanis Bermartabat Sedanau, Muslim, mengatakan saat ini ada lima klub dengan masing-masing sekitar 30 anggota berusia 40 hingga 70 tahun. “Alhamdulillah, sekarang peserta sangat antusias,” katanya Jumat (12/6/2026).
Nama Ikan Jadi Strategi Komunikasi Kesehatan
Yang membedakan Prolanis Bermartabat di Sedanau dengan program serupa di tempat lain adalah cara tim pelaksana mengemas pesan kesehatan. Setiap kelompok peserta diberi nama ikan yang akrab dengan kehidupan nelayan setempat.
Ada IKAN TONGKOL (pastIKAN Tensi, kOlestrol, daN Gula Kita nOrmaL), IKAN BELANAK (pastIKAN BErat & Lemak bAdaN kitA terKontrol), IKAN BILIS (pastIKAN Beraktivitas fIsik LebIh Sering), IKAN MENGKAET (pastIKAN MENGkonsumsi maKanan yAng sEhaT), dan IKAN BAWAL (pastIKAN Berobat sesuAi jadWAL). Satu kelompok lagi, IKAN TAMBAN, mengingatkan peserta untuk membatasi konsumsi gula dan garam.
Muslim menyebut pendekatan ini sengaja dipilih agar peserta tidak merasa sedang mengikuti program pengobatan yang kaku. “Suasana jadi lebih akrab, pesan kesehatan lebih mudah diingat,” ujarnya.
Tiga Tujuan: Patuh Berobat, Produktif, Cegah Komplikasi
Prolanis Bermartabat memiliki tiga target utama. Pertama, meningkatkan kepatuhan penderita penyakit kronis — terutama hipertensi dan diabetes melitus — dalam menjalani pengobatan dan pola hidup sehat. Kedua, menjaga kualitas hidup peserta agar tetap bisa beraktivitas dan produktif. Ketiga, mencegah komplikasi serius seperti stroke, gagal ginjal, dan gangguan kardiovaskular lainnya.
Menurut Muslim, perubahan perilaku mulai terlihat. Para peserta kini lebih disiplin berolahraga, rutin minum obat sesuai anjuran tenaga kesehatan, dan lebih peduli terhadap pola makan.
Dampaknya nyata dalam kehidupan sehari-hari. Nelayan di Sedanau tetap bisa melaut mencari nafkah. Pedagang keliling masih menjalankan usahanya. Sebagian peserta lain masih aktif mengasuh cucu dan mengurus rumah tangga. “Mereka mampu mempertahankan kualitas hidup meski hidup berdampingan dengan penyakit kronis,” kata Muslim.
Capaian yang Mengantar Puskesmas Sedanau Raih Penghargaan
Keberhasilan Prolanis Bermartabat bukan sekadar klaim. Puskesmas Sedanau tercatat meraih penghargaan sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dengan capaian Rasio Peserta Prolanis Terbaik. Program ini menjadi salah satu faktor yang mendorong prestasi tersebut.
Muslim mengakui bahwa awal perjalanan program tidak mudah. Sosialisasi harus dilakukan berulang kali sebelum warga mau bergabung. “Saya benar-benar merasa bangga dan sangat bersyukur. Awalnya banyak peserta yang ragu, tetapi sekarang mereka justru menjadi yang paling antusias,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan ini adalah hasil kerja keras seluruh tim dan dukungan dari Puskesmas Sedanau serta BPJS Kesehatan yang terus mendampingi.
Kisah Prolanis Bermartabat di Sedanau menjadi contoh bahwa program kesehatan nasional bisa beradaptasi dengan kearifan lokal dan tetap efektif di daerah terpencil. Di ujung negeri, lansia tidak sekadar bertahan hidup — mereka tetap produktif dan sehat.