KEPULAUAN RIAU — Kekalahan 2-3 dari Norwegia, Senin (17/6), menjadi pukulan telak bagi skuat asuhan Pape Thiaw. Bukan cuma soal skor, tapi juga performa buruk pemain kunci dan kekacauan di luar lapangan yang membayangi persiapan tim. Untuk pertama kalinya sejak debut impresif mereka di Piala Dunia 2002, Singa Teranga menelan dua kekalahan beruntun di turnamen ini.
Gaji Pelatih Tertunggak, Presiden Turun Tangan
Masalah Senegal berakar dari manajemen federasi yang kacau. Pelatih Pape Thiaw bahkan tak memiliki kontrak kerja sejak Februari dan gajinya tertunggak lima bulan. Situasi ini membuatnya menolak berangkat ke Amerika Serikat hingga Presiden Senegal, Bassirou Diomaye Faye, turun tangan langsung untuk mediasi.
“Ketika ini terjadi, Pape menelepon saya. Saya bilang dia harus fokus pada tugas untuk bangsa,” ujar mantan Presiden Federasi Sepak Bola Senegal (FSF), Augustin Senghor, kepada Guardian. Senghor, yang digantikan Abdoulaye Fall pada Agustus lalu, menyoroti tata kelola buruk era kepemimpinan baru.
Thiaw sendiri akhirnya mengumumkan masalah kontrak dan gajinya telah beres jelang laga kontra Norwegia. Namun, sumber internal menyebut tuntutan gaji sebesar 100.000 dolar AS per bulan menjadi titik buntu negosiasi dengan pemerintah. “Ini soal prinsip dan rasa hormat, bukan uang,” tegas Thiaw.
Koulibaly Akui Performa Jeblok, Sarr Terlantar di Bangku Cadangan
Di atas lapangan, kapten Kalidou Koulibaly tampil jauh dari kata layak. Bek tengah Al-Hilal itu mengakui kondisinya buruk karena tak bermain kompetitif sejak April akibat cedera. “Setiap bola yang saya sentuh salah. Saya membuat terlalu banyak kesalahan,” sesal Koulibaly usai laga.
Publik dan media Senegal juga geram dengan Thiaw yang enggan memainkan talenta muda seperti Pape Matar Sarr. Gelandang Tottenham Hotspur berusia 23 tahun itu seharusnya bisa menggantikan Koulibaly yang limbung. Jika tak dimainkan kontra Irak, itu jelas sebuah kebodohan.
Sadio Mane, yang sudah berusia 34 tahun, juga tampil tanpa taji di turnamen perpisahannya ini. Thiaw butuh sang bintang kembali ke performa terbaiknya saat menghadapi Irak di Toronto. Satu fakta pahit sudah di depan mata: jika gagal menang dengan selisih gol besar, masa jabatan Thiaw yang baru 18 bulan bisa berakhir lebih cepat.