RANAI — Berawal dari iseng merangkai buket untuk mengisi waktu luang saat kuliah, Weny Widyaningsih, S.K.M., kini menjadi salah satu pengusaha buket kreatif yang dikenal di Kabupaten Natuna. Usahanya, The Florist Natuna, bertahan dan berkembang meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih.
Dari Kos-kosan ke Ruko: Perjalanan Usaha yang Tak Instan
Weny memulai usahanya pada 2019 di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, saat masih menempuh pendidikan tinggi. Pandemi sempat menghentikan aktivitas itu. Setelah lulus dan kembali ke Natuna, ia melihat peluang saat belum mendapatkan pekerjaan tetap.
“Awalnya saya jualan dari rumah di Sungai Ulu. Ternyata peminatnya cukup banyak, tetapi sebagian besar pelanggan berasal dari Ranai. Saya sering mengantar pesanan sendiri,” ujar Weny kepada koranperbatasan.com, Jumat (3/7/2026).
Karena kelelahan mengantar pesanan, setelah menikah ia pindah ke Ranai dan tinggal di kos. Keberanian menyewa ruko pun diambil. “Alhamdulillah sekarang sudah berjalan tiga tahun dan sudah memiliki satu karyawan,” tambahnya.
Harga Mulai Rp10 Ribu hingga Rp1 Juta: Buket Custom Jadi Andalan
The Florist Natuna menawarkan berbagai pilihan buket dengan harga yang bisa disesuaikan kantong pelanggan. Buket termurah dibanderol mulai Rp10 ribu, sementara buket premium bisa mencapai Rp1 juta tergantung ukuran dan jenis rangkaian.
Keunggulan usaha ini terletak pada layanan pesanan custom. Pelanggan bisa memesan buket snack dipadukan boneka, buket uang ditambah cokelat, hingga buket bola yang dibawa sendiri tanpa biaya tambahan. “Kalau seperti itu tidak ada biaya tambahan, cukup membayar harga buketnya saja,” jelas Weny.
Omzet usaha ini mencapai Rp5 juta atau lebih per bulan dalam kondisi normal, meskipun sifatnya sangat bergantung pada momentum seperti musim wisuda, Hari Guru, dan pelantikan pejabat.
Tantangan Logistik dan Daya Beli: Bahan Baku Harus Didatangkan dari Jawa
Salah satu kendala terbesar adalah keterbatasan bahan baku di Natuna. Hampir seluruh perlengkapan buket harus didatangkan dari Pulau Jawa. Proses distribusi melalui jalur laut kerap terhambat saat kapal kargo menjalani perawatan atau docking.
Persaingan usaha juga semakin ketat seiring bertambahnya pelaku usaha serupa di Natuna. “Sekarang usaha seperti ini semakin banyak. Jadi kami harus terus berinovasi dan lebih kreatif supaya tetap bisa bersaing,” kata Weny.
Kondisi ekonomi yang melambat turut memengaruhi daya beli. Buket bukan kebutuhan pokok, sehingga permintaan bisa berubah mengikuti kondisi keuangan pelanggan. “Pasti ada dampaknya. Tapi alhamdulillah sampai sekarang pesanan masih tetap ada,” tuturnya.
Harapan ke Depan: Punya Ruko Sendiri dan Buka Lebih Banyak Lapangan Kerja
Menjelang musim wisuda, Weny mengajak masyarakat mengabadikan momen kelulusan sebagai bentuk apresiasi. Menurutnya, buket atau boneka wisuda adalah simbol penghargaan atas kerja keras seseorang.
“Kelulusan itu momen penting yang layak dikenang. Buket atau boneka wisuda menjadi simbol bahwa perjuangan mereka telah berhasil dilalui,” ujarnya.
Perempuan asli Natuna ini berharap usahanya terus maju, memiliki ruko milik sendiri, dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal.