NATUNA — Berawal dari inisiatif menyediakan camilan sehat berbahan jambu kristal, Zaharoh kini bertahan di tengah tekanan ekonomi. Ia mengaku omzet harian usahanya merosot drastis dibandingkan saat awal merintis.
"Dulu omzet bisa sampai Rp800 ribu bahkan Rp1 juta sehari. Sekarang untuk mencapai Rp400 ribu saja cukup sulit," ujar Zaharoh kepada koranperbatasan.com, Sabtu (4/7/2026).
Racikan Bumbu Tabur Jadi Daya Tarik
Keunikan rujak buatan Zaharoh terletak pada racikan bumbu tabur khas yang terdiri dari garam, gula, dan bubuk cabai kering yang dihaluskan. Pelanggan bebas memilih tingkat kepedasan dan cara penyajian bumbu, baik dicampur langsung maupun dipisah.
Selain jambu kristal, pelanggan bisa memesan paket campuran dengan jambu air, jambu madu, nanas, atau mangga apel sesuai musim panen. Harga satu porsi standar Rp15 ribu, dan porsi Rp10 ribu pun tetap dilayani.
Pasokan dari Pontianak, Terkendala Cuaca
Untuk menjaga kualitas, Zaharoh mendatangkan jambu kristal dari Pontianak karena hasil panen petani lokal belum mencukupi kebutuhan harian. "Kalau mengandalkan buah lokal belum bisa setiap hari karena panennya masih terbatas," jelasnya.
Kendala muncul saat angin kencang melanda perairan Natuna. Distribusi buah dari luar daerah kerap terhambat, sementara ketahanan jambu kristal hanya sekitar 10 hari sebelum membusuk. Kini Zaharoh mengurangi jumlah pemesanan dari tiga keranjang (80-100 kg) menjadi satu keranjang (sekitar 50 kg) untuk 10 hari.
Bekal Jurnalis untuk Berdagang
Sebelum berjualan rujak, Zaharoh sempat berkarier sebagai jurnalis pada 2010 hingga 2011. Pengalaman itu membantunya membangun relasi dan memahami dinamika masyarakat Natuna.
Zaharoh berharap kondisi ekonomi Natuna segera pulih. "Kalau daya beli masyarakat meningkat, tentu usaha-usaha kecil seperti kami juga ikut berkembang," pungkasnya.