BATAM — Kekecewaan orang tua calon peserta didik baru di Batam memuncak. Mereka yang rumahnya berada di sekitar SMKN 5 mempersoalkan hasil SPMB 2026 yang dinilai tidak mengakomodasi warga setempat. Ancaman aksi pun mencuat usai pertemuan dengan pihak sekolah dan dinas pendidikan pada Jumat (11/7/2026).
Apa Isi Keberatan Warga Sekolah?
Pertemuan yang digelar di ruang kepala sekolah itu dihadiri oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Batam, Kepala SMKN 5 Batam Henra Debeny, Lurah Sungai Pelunggut Rasman Apandi, serta perwakilan Polsek Sagulung. Tokoh masyarakat dan pengurus RT/RW setempat juga turut hadir.
Dalam forum tersebut, orang tua menyampaikan bahwa anak mereka tidak lulus seleksi meski tinggal hanya beberapa ratus meter dari gerbang sekolah. Salah seorang warga Kavling Kamboja mengaku anaknya mengalami tekanan mental setelah mengetahui hasil pengumuman.
Anak Tertekan, Warga Siap Turun ke Jalan
“Anak kami merasa malu kepada teman-temannya dan sekarang memilih tidak keluar rumah,” ujar salah seorang warga dalam pertemuan tersebut, Jumat lalu.
Kekhawatiran akan dampak psikologis pada anak menjadi salah satu pemicu utama kemarahan orang tua. Mereka menilai sistem zonasi yang diterapkan dalam SPMB 2026 belum berjalan sesuai harapan di Batam.
Belum Ada Tanggapan Resmi dari Pemprov Kepri
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau terkait tuntutan warga. Pertemuan dengan pihak sekolah dan dinas pendidikan dianggap belum menghasilkan solusi konkret.
Warga mengancam akan menggelar aksi jika tuntutan mereka tidak segera direspons. Mereka mendesak agar hasil seleksi dievaluasi dan kuota bagi warga sekitar sekolah ditambah pada tahap berikutnya.