BATAM — Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) mengambil langkah konkret untuk menjawab tantangan degradasi moral di kalangan muda dengan menyusun buku character building yang mengintegrasikan tiga pendekatan sekaligus: psikologi modern, ajaran Al-Qur'an, dan nilai-nilai Gurindam 12. Inisiatif ini dimulai dengan kunjungan tim UAI yang dipimpin Andri Hadiansyah ke Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam untuk meminta izin dan masukan agar buku yang dirancang tetap autentik dengan budaya Melayu.
Mengapa Gurindam 12 Dipilih Sebagai Fondasi Karakter?
Ketua LAM Kota Batam, YM. H. Raja Muhamad Amin, menyambut antusias inisiatif tersebut. Ia menilai langkah UAI sebagai terobosan strategis untuk memperkenalkan warisan sastra Melayu ke panggung global.
"Hebat, saya dukung. Kita sangat mengapresiasi, karena Mas Andri dan tim punya ide untuk menduniakan Gurindam 12," ujar Raja Muhamad Amin dalam keterangan tertulisnya.
Gurindam 12, yang berisi petuah tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama, dinilai tetap relevan untuk membentengi Generasi Z dari dampak negatif arus informasi digital yang deras.
Bukan Sekadar Buku, Melainkan Modul Pembinaan Kampus
Andri Hadiansyah menegaskan bahwa buku ini dirancang lebih dari sekadar koleksi perpustakaan. Pihaknya menyusun materi tersebut sebagai modul character building yang siap diterapkan di lingkungan pendidikan, khususnya di kalangan sivitas akademika UAI.
"Kehadiran kami di sini untuk meminta izin kepada yang mulia, karena kami ada rencana untuk menjadikan buku ini sebagai sebuah modul character building," kata Andri.
Integrasi antara psikologi dan ajaran Al-Qur'an dalam modul ini diharapkan mampu membantu mahasiswa memperkuat kesehatan mental, memahami jati diri, sekaligus membangun karakter yang tangguh di tengah tekanan zaman.
Dukungan LAM: Jaminan Autentisitas Nilai Melayu
Audiensi antara tim UAI dan LAM Kota Batam menjadi langkah krusial untuk memastikan isi buku tidak melenceng dari nilai-nilai adat. Dukungan penuh dari LAM diharapkan memperkuat upaya pelestarian Gurindam 12 dan memperluas pemanfaatannya sebagai media pendidikan karakter bagi masyarakat luas, tidak hanya di Kepulauan Riau tetapi juga secara nasional.