Di pesisir timur Sumatra, masyarakat Melayu Kepulauan Riau memegang teguh adat istiadat dalam setiap helat pernikahan. Bagi warga lokal yang tinggal di pusat kota Tanjungpinang maupun perantau yang pulang kampung, prosesi ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah penanda identitas dan warisan leluhur yang terus diwariskan turun-temurun.
Dari tepuk tepung tawar yang melibatkan seluruh keluarga hingga malam berinai yang penuh doa, setiap tahapan punya aturan dan filosofi tersendiri. Berikut enam tradisi pernikahan adat Kepri yang masih lestari hingga saat ini.
1. Merisik dan Meminang: Awal Perundingan Dua Keluarga
Sebelum hari bahagia tiba, pihak laki-laki mengutus keluarga terdekat untuk merisik. Tujuannya mencari informasi tentang calon mempelai perempuan secara tidak langsung. Biasanya, utusan ini adalah tokoh masyarakat atau tetua adat yang paham tata krama.
Setelah kabar baik didapat, prosesi berlanjut ke peminangan. Di sinilah dibahas mas kawin, jumlah hantaran, dan tanggal pernikahan. Tradisi ini menekankan musyawarah mufakat, bukan keputusan sepihak. Di beberapa kampung di Bintan, proses peminangan bisa berlangsung hingga semalaman karena diiringi pantun dan syair Melayu.
2. Tepuk Tepung Tawar: Simbol Tolak Bala dan Restu
Tepuk tepung tawar adalah ritual paling ikonik dalam pernikahan Melayu Kepri. Kedua mempelai duduk bersanding di pelaminan. Satu per satu, orang tua, saudara, dan tamu undangan mendekat untuk menepuk-nepuk ujung jari yang sudah dicelupkan ke campuran beras kunyit, tepung beras, dan daun pandan.
Gerakan menepuk ini bermakna mendoakan keselamatan dan menolak bala. Uniknya, di Kepulauan Riau, tepuk tepung tawar sering dilakukan di tengah acara resepsi, bukan di awal. Tamu yang hadir antre untuk memberikan doa lewat tepukan lembut di punggung tangan pengantin.
3. Malam Berinai: Momen Perempuan Berkumpul
Malam berinai biasanya digelap sehari sebelum akad nikah. Hanya dihadiri oleh perempuan dari kedua keluarga. Pengantin perempuan akan dihias dengan inai atau pacar kuku di ujung jari tangan dan kaki. Pola inai digambar sederhana, tidak serumit di India atau Timur Tengah.
Di sela-sela prosesi, para tamu melantunkan pantun dan nasihat pernikahan. Suasana hangat dan penuh tawa. Tradisi ini menjadi ruang bagi perempuan untuk berbagi pengalaman rumah tangga secara turun-temurun. Di Tanjungpinang, malam berinai kadang dirangkai dengan acara mandi uap atau berendam air bunga.
4. Akad Nikah dengan Satu Nafas
Prosesi inti pernikahan adat Kepri tetap mengikuti syariat Islam. Namun, ada satu keunikan: ijab kabul biasanya diucapkan dalam satu tarikan nafas. Calon suami harus mengucapkan kalimat serah terima tanpa terputus. Jika tercekat atau salah ucap, ia harus mengulang dari awal.
Di beberapa wilayah seperti Karimun dan Lingga, saksi nikah biasanya adalah imam kampung atau penghulu adat yang hafal silsilah keluarga. Setelah akad, dilanjutkan dengan sujud kepada kedua orang tua sebagai tanda bakti. Momen ini sering menjadi bagian paling haru dalam seluruh rangkaian acara.
5. Bersanding di Pelaminan dengan Busana Khas
Setelah resmi menjadi suami istri, pasangan pengantin duduk bersanding di pelaminan. Busana yang dikenakan khas Melayu Kepri: pengantin pria memakai baju teluk belanga dan songket, sementara perempuan memakai kebaya encim atau baju kurung dengan kain songket.
Mahkota pengantin perempuan disebut siger atau mahkota Melayu. Bentuknya runcing di bagian atas, melambangkan keagungan dan kesucian. Di Kepri, pelaminan biasanya dihias dengan kain kuning keemasan—warna kerajaan Melayu—bukan putih seperti di Jawa. Tamu yang datang akan disuguhi nasi dagang atau nasi lemak sebagai hidangan khas.
6. Makan Berdamai dan Ziarah Kubur
Setelah resepsi selesai, tradisi makan berdamai digelar. Keluarga kedua belah pihak makan bersama dalam satu dulang. Biasanya menu yang disajikan adalah gulai ikan patin dan sambal belacan. Acara ini menjadi simbol rekonsiliasi dan penguatan ikatan keluarga besar.
Tak ketinggalan, pasangan pengantin baru akan melakukan ziarah ke makam leluhur. Biasanya ke makam datuk atau nenek yang dihormati. Mereka membacakan doa dan menabur bunga. Di Kepri, tradisi ini dipercaya sebagai bentuk penghormatan sekaligus meminta restu dari arwah leluhur agar rumah tangga langgeng.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah semua tradisi ini wajib dilakukan?
Tidak semua. Beberapa keluarga memilih menyederhanakan prosesi, terutama yang tinggal di perantauan. Namun, tepuk tepung tawar dan akad nikah tetap menjadi inti yang jarang ditinggalkan.
Berapa lama rangkaian pernikahan adat Kepri?
Biasanya berlangsung 2-3 hari, dimulai dari malam berinai hingga resepsi. Ada juga yang memadatkannya dalam satu hari karena keterbatasan waktu.
Apakah perantau bisa tetap menjalankan adat ini?
Sangat bisa. Banyak warga Kepri di Batam atau Jakarta tetap menggelar tepuk tepung tawar dan malam berinai meski dengan skala lebih kecil. Peralatan adat seperti pelaminan dan songket bisa disewa di penyedia jasa pernikahan lokal.
Apa bedanya pernikahan adat Kepri dengan Melayu di daerah lain?
Yang paling khas ada pada malam berinai yang hanya dihadiri perempuan dan tepuk tepung tawar yang dilakukan di tengah resepsi. Selain itu, busana pengantin Kepri cenderung lebih sederhana dibandingkan Melayu Deli atau Palembang yang lebih gemerlap.
Apakah ada pantangan khusus selama prosesi?
Ada. Pengantin dilarang keluar rumah sebelum akad nikah. Juga tidak boleh bertemu calon pasangan setelah malam berinai hingga akad selesai. Pantangan ini dipercaya menjaga kesakralan prosesi.
Tradisi pernikahan adat Kepulauan Riau bukan sekadar tontonan. Ia adalah cerminan nilai gotong royong, penghormatan pada leluhur, dan keteguhan memegang adat di tengah arus modernisasi. Bagi yang hendak menikah dengan adat ini, memahami setiap prosesi bukan hanya soal estetika, melainkan juga soal makna yang akan menemani perjalanan rumah tangga ke depan.