KEPULAUAN RIAU — Singaraja Putra mengucurkan pinjaman maksimal Rp 633,25 miliar kepada PKP dan Rp 547,03 miliar kepada PBP, dengan tingkat bunga 10,95% per tahun. Dana tersebut dialokasikan untuk membiayai operasional harian, termasuk pembayaran jasa kontraktor pertambangan, pengangkutan atau hauling, hingga pembelian bahan bakar.
Alokasi ini merupakan realisasi dari rencana penggunaan dana hasil rights issue yang telah dilakukan perseroan sebelumnya. Dengan suntikan modal ini, kedua anak usaha diharapkan bisa mempercepat tahap produksi, terutama PBP yang menargetkan first cut atau penggalian pertama pada kuartal IV 2026.
Harga Saham Terbang, Analis Ingatkan Risiko Eksekusi
Pada perdagangan Senin (24/8), saham SINI ditutup menguat 8,36% ke level Rp 8.750 per saham. Dalam sebulan terakhir, kinerja sahamnya bahkan sudah melesat 28,68%. Penguatan ini tak lepas dari perubahan profil bisnis perusahaan yang kini menguasai cadangan batu bara puluhan juta ton di Kalimantan Tengah melalui anak usahanya, PT Kemilau Mulia Sakti (KMS).
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai suntikan dana ini menunjukkan keseriusan manajemen dalam menggenjot produksi. "Kalau eksekusinya berjalan sesuai target, potensi peningkatan revenue dan cash flow ke depan cukup besar," ujarnya. Kendati demikian, ia mengingatkan investor untuk mencermati risiko eksekusi, seperti pembebasan lahan dan fluktuasi harga batu bara, karena sebagian ekspektasi positif sudah tercermin di harga saham.
Untuk akhir 2026, Panin Sekuritas memasang target harga SINI di kisaran Rp 9.000 hingga Rp 10.000 per saham, dengan base case sekitar Rp 9.500.
Transformasi Bisnis Mulai Terlihat di Laporan Keuangan
Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, menilai langkah SINI menunjukkan komitmen kuat untuk mengalihkan fokus ke sektor batu bara. Transformasi ini dimulai dari akuisisi PT Dwi Daya Swakarsa pada 2023, kemudian operasional PBP dan PKP berjalan pada 2024–2025, dan diperkuat pada 2026 lewat akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti dari PTRO.
Hasilnya mulai terlihat pada kinerja semester I 2026. Penjualan batu bara kini menyumbang 56,3% dari total pendapatan SINI, melampaui kontribusi bisnis kayu yang menjadi bisnis awal perseroan. Dengan harga batu bara acuan yang masih bertahan di level tinggi, sekitar US$ 130 per ton pada akhir Agustus 2026, Korea Investment Sekuritas optimistis pertumbuhan pendapatan dan laba bersih SINI berlanjut. Mereka menetapkan target harga Rp 10.000 per saham hingga akhir tahun.
Lonjakan harga saham ini mencerminkan optimisme pasar terhadap arah baru bisnis perseroan. Namun, realisasi produksi di lapangan tetap menjadi ujian utama apakah transformasi ini benar-benar menguntungkan secara berkelanjutan.